Kisah Haru Ibu di Balik Lolos SNBP: Dari Seni Tari hingga Ilmu Astronomi, Tantangan Biaya Kuliah Menguji Ketangguhan Keluarga

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 13 April 2026 | Ketika sebuah video viral menampilkan seorang ibu mengungkapkan kebahagiaan sekaligus kekhawatiran atas penerimaan anaknya di perguruan tinggi melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), ribuan netizen ikut merasakan campuran emosi yang sama. Ibu Santi, seorang ibu rumah tangga dari Bandung, memamerkan senyum lebar ketika putrinya, Arrifa, dinyatakan lolos SNBP dan diterima di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung jurusan Seni Tari. Namun tak lama kemudian, ia melontarkan pertanyaan dalam bahasa Sunda, “Bayarna gimana ya?”, menandakan kekhawatiran nyata tentang biaya kuliah.

Berbeda dengan Arrifa yang menapaki dunia tari sejak usia dini, kisah Rayhan Al Zaky, anak petani dari Gresik, menorehkan prestasi akademik luar biasa. Rayhan berhasil masuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur SNBP 2026. Lahir di keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai buruh tani dan ibunya menjadi ibu rumah tangga. Meski kondisi ekonomi terbatas, kedua anak ini menunjukkan bahwa tekad dan dukungan keluarga tetap menjadi faktor penentu.

Perjuangan Arrifa dimulai sejak kecil dengan menekuni tari Jaipong. Ia pernah meraih juara harapan I pada ajang Galuh Pakuan Cup tingkat nasional di Subang, sekaligus memperoleh piagam koreografer. Ibu Santi menyatakan, “Alhamdulillah anak saya keterima di ISBI Bandung Jurusan Seni Tari. Rasa bahagia, bingung, dan campur menjadi satu.” Kesuksesan itu tidak lepas dari latihan intensif, partisipasi di kompetisi, serta dukungan moral dari orang tua.

Namun, kebahagiaan itu diiringi pertanyaan praktis. “Biaya semester, kos, dan kebutuhan sehari-hari menjadi beban,” keluh Santi. Sebagai ibu rumah tangga dengan suami yang bekerja sebagai buruh mebel dengan pendapatan tidak menentu, keluarga ini mengandalkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Hingga kini, mereka masih menunggu keputusan. Santi menekankan pentingnya komunikasi terbuka dengan anaknya, sehingga Arrifa memahami situasi ekonomi keluarga dan tetap termotivasi.

Di sisi lain, Rayhan menempuh jalur yang berbeda namun serupa dalam hal tantangan. Ia awalnya bercita‑cita menjadi guru, namun ketertarikan pada astronomi sejak kelas 9 mengarahkan pilihannya ke bidang ilmu alam. Strategi belajar Rayhan meliputi: adaptasi pola belajar sejak kelas 10, pencatatan rapi, disiplin dalam mengerjakan tugas, serta peningkatan nilai rapor yang menjadi kunci utama SNBP. Selama lima semester, ia aktif mengikuti lomba kecil, konsultasi dengan guru Career Planning, dan mengumpulkan data prestasi untuk mendukung aplikasi.

Rayhan mengakui peran penting orang tua dalam menanamkan nilai kesabaran, ketelatenan, dan keimanan. “Saya menuntaskan pilihan saya dengan sholat tahajud sebelum pendaftaran SNBP,” ungkapnya. Dukungan keluarga, meski dengan pendapatan terbatas, memungkinkan ia fokus pada studi dan persiapan seleksi.

Kedua cerita ini menyoroti pola umum yang muncul di antara pelajar berprestasi dari keluarga kurang mampu: keberhasilan akademik atau seni tidak lepas dari perjuangan ekonomi. Baik Santi maupun Rayhan menekankan pentingnya beasiswa, kerja keras, dan dukungan moral. Kedua ibu tersebut memberikan pesan yang menginspirasi: jangan pernah mematahkan semangat anak, selalu dukung potensi mereka, dan berusaha sebaik mungkin demi masa depan.

Dengan meningkatnya jumlah penerima SNBP tiap tahun, pemerintah dan perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan untuk memperluas akses beasiswa dan fasilitas pendukung. Kasus Santi dan Rayhan menjadi contoh konkret bahwa kebijakan pembiayaan pendidikan harus lebih responsif terhadap kebutuhan nyata keluarga, terutama bagi mereka yang mengandalkan pekerjaan tidak tetap atau sektor informal.

Kesimpulannya, kebanggaan atas keberhasilan anak di SNBP tidak dapat dipisahkan dari realitas biaya kuliah yang menguji ketangguhan ekonomi keluarga. Cerita Ibu Santi dan Rayhan Al Zaky mengajarkan bahwa di balik setiap prestasi, terdapat doa, harapan, dan strategi konkret yang dijalankan bersama. Diharapkan, perhatian lebih dari pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas dapat memperkuat jaring pengaman finansial, sehingga mimpi anak‑anak Indonesia dapat terwujud tanpa mengorbankan kesejahteraan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *