PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 22 Juli 2026 | Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.940 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026 pagi. Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama pendorong penguatan mata uang rupiah. Aliran masuk dana asing ke pasar keuangan Indonesia turut memberikan sentimen positif bagi penguatan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia beberapa bergerak variatif. Di mana, rupee India berada satu level di bawah rupiah setelah menanjak 0,22 persen. Selanjutnya, dolar Singapura terkerek 0,09 persen dan ringgit Malaysia terangkat 0,08 persen. Lalu, yuan China tipis naik 0,03 persen. Sedangkan, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup anjlok 0,28 persen.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan sore ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik. Membuat ringkasan dengan AI Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan sore ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Menurut Ibrahim, kedua negara saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) disebut kembali menggempur sejumlah target di Iran pada Minggu (19/7) malam.
Kondisi tersebut juga memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara. Situasi keamanan di Selat Hormuz turut menjadi perhatian pelaku pasar karena jalur pelayaran tersebut masih mengalami gangguan. Aktivitas pengiriman disebut masih jauh di bawah kondisi sebelum konflik, sehingga memicu kekhawatiran terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dunia.
Akibatnya, premi risiko pada harga minyak kembali meningkat. Kenaikan harga energi juga memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi di Amerika Serikat. Di sisi lain, meski data inflasi dan pasar tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan ekonomi, investor masih menilai kenaikan harga minyak berpotensi mempersulit langkah Federal Reserve dalam menurunkan inflasi.
Meski demikian, pelemahan rupiah diperkirakan tidak akan berlangsung terlalu dalam. Sentimen positif dari dalam negeri masih menjadi penopang, terutama melalui derasnya aliran dana asing ke pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN). Masuknya dana asing tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan berpotensi membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
Dengan mempertimbangkan kedua sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rupiah menjadi mata uang terkuat di Asia dan berpotensi kembali menguat menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia.
