PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 22 April 2026 | Seorang pelaut Indonesia yang tengah melintasi Selat Hormuz mengungkapkan kekecewaannya setelah bertemu kapal tanker milik Pertamina, Kapal Gamsunoro. Menurut saksi mata, seluruh kru kapal tersebut berwarga negara India, tanpa satu pun awak asal Indonesia. Hal ini memicu pertanyaan mengenai kebijakan penempatan awak kapal serta implikasinya bagi kepentingan nasional.
Pelaut tersebut, yang menyebutkan namanya Andrian Umar, mengaku awalnya berharap kapal pertamina yang terjebak di kawasan Teluk Arab dapat menjadi titik pertemuan bagi pelaut Indonesia. Namun, saat berinteraksi dengan awak Kapal Gamsunoro, ia justru menemukan bahwa semua posisi teknis dan operasional diisi oleh warga India. “Saya merasa dikesampingkan, padahal kami juga berhak bekerja di kapal milik negara,” ujar Andrian dalam sebuah video yang kemudian menjadi viral di media sosial.
Pertamina menanggapi kejadian ini melalui juru bicaranya, Vega Pita, Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS). Menurutnya, penempatan awak kapal merupakan bagian dari kebijakan penyewaan tenaga kerja (sewa tenaga kerja asing) yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional. “Kru kami adalah penyewa yang telah diseleksi secara ketat. Kami terus memantau situasi di Selat Hormuz dan berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memastikan keamanan pelayaran,” kata Vega Pita.
Pertamina juga menegaskan bahwa tidak ada muatan LPG yang diangkut oleh Kapal Gamsunoro atau kapal Pertamina lainnya menuju Indonesia. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang membantah laporan media mengenai keberhasilan sebuah tanker mengangkut LPG ke Indonesia lewat Selat Hormuz.
Berikut ini rangkuman status operasional dua kapal Pertamina yang saat ini tertahan:
| Kapal | Bendera | Status | Kecepatan | Tujuan |
|---|---|---|---|---|
| Pertamina Pride | Singapura | At Anchor | 0 knot | FOR ORDERS (menunggu instruksi) |
| Gamsunoro | Indonesia | At Anchor | 0 knot | FOR ORDERS |
Data di atas diambil dari layanan pelacakan maritim MarineTraffic, yang mencatat kedua kapal berada dalam kondisi berlabuh dan belum dapat melintasi Selat Hormuz akibat ketidakstabilan keamanan di kawasan tersebut.
Sementara itu, laporan lain menyebutkan bahwa pada akhir pekan terakhir, sekitar 20 kapal berhasil melintasi Selat Hormuz, termasuk beberapa tanker yang mengangkut LPG dengan tujuan China, India, dan satu tanker berbahasa Panama bernama Crave yang konon membawa LPG ke Indonesia. Namun, baik Pertamina maupun ESDM membantah bahwa kapal tersebut merupakan milik atau dikelola oleh perusahaan nasional.
Situasi geopolitik di Selat Hormuz tetap tegang. Blokade yang diterapkan bersama oleh Amerika Serikat dan Iran memperkecil ruang gerak kapal komersial. Hanya tiga kapal yang dilaporkan dapat melewati selat secara aman dalam 24 jam terakhir, dua di antaranya adalah kapal milik Indonesia yang masih tertahan. Hal ini menambah beban logistik energi nasional, mengingat Indonesia sangat bergantung pada impor bahan bakar dan LPG.
Dalam menanggapi kondisi ini, Pertamina berjanji akan terus melakukan koordinasi intensif dengan kementerian terkait, otoritas maritim internasional, serta mengoptimalkan rencana pelayaran yang aman. Sementara itu, pelaut Indonesia berharap kebijakan penempatan awak kapal dapat lebih melibatkan tenaga kerja domestik, mengingat pentingnya keberadaan WNI di kapal-kapal strategis negara.
Kesimpulannya, penahanan Kapal Gamsunoro di Selat Hormuz menyoroti tantangan operasional industri pelayaran Indonesia di tengah ketegangan geopolitik, sekaligus menimbulkan perdebatan mengenai kebijakan penggunaan tenaga kerja asing di kapal milik negara. Pertamina dan pemerintah diharapkan dapat memberikan kejelasan lebih lanjut demi menjaga kepentingan nasional dan keamanan energi.
