PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 28 April 2026 | CEO Honda Motor Co., Toshihiro Mibe, mengungkapkan secara terbuka bahwa perusahaan Jepang itu telah tertinggal jauh dalam persaingan kendaraan listrik (EV) global, terutama dibandingkan produsen asal China. Pernyataan tersebut muncul setelah Mibe mengunjungi sebuah pabrik pemasok otomotif di Shanghai pada Februari 2026, di mana ia menyaksikan tingkat otomatisasi dan efisiensi produksi yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Menurut laporan media lokal, Mibe mengatakan, “Kami tidak punya peluang melawan ini. Dari pengadaan suku cadang hingga manajemen logistik, semuanya sudah otomatis, tanpa kehadiran manusia di lantai produksi.” Ungkapan ini menandai titik balik dalam strategi Honda, yang selama ini bergantung pada keunggulan teknologi mesin pembakaran internal.
Tekanan terhadap Honda tidak hanya datang dari kecepatan inovasi China, tetapi juga dari perubahan kebijakan di Amerika Serikat. Pada pertengahan 2025, pemerintah AS menghapus insentif pajak bagi kendaraan listrik, yang sebelumnya menjadi pendorong utama adopsi EV. Keputusan ini memaksa produsen otomotif global, termasuk Honda, untuk menyesuaikan strategi secara mendadak.
Akibatnya, Honda melaporkan kerugian tahunan pertama sebesar US$15,7 miliar (sekitar Rp 270,7 triliun), menjadikannya kerugian terbesar dalam sejarah perusahaan. Kerugian serupa juga dialami Ford dan General Motors, namun Honda menjadi sorotan utama karena pernyataan langsung Mibe.
- Ketertinggalan teknologi manufaktur dibandingkan pabrik China.
- Kebijakan AS yang menghilangkan insentif pajak EV.
- Kerugian finansial lebih dari US$15,7 miliar.
- Strategi restrukturisasi: pemindahan ribuan insinyur ke unit riset independen.
Setelah kembali dari China, Mibe menekankan perlunya percepatan inovasi di dalam jaringan pemasok Honda. Ia menginstruksikan tim untuk memperkuat divisi riset dan pengembangan, serta membentuk anak perusahaan teknik baru yang akan memfokuskan pada teknologi EV dan otomatisasi produksi.
Sementara itu, Honda juga mengumumkan pembatalan dua proyek mobil listrik utama, yakni SUV dan sedan berlabel Afeela yang dikembangkan bersama Sony. Keputusan ini mencerminkan penilaian kembali portofolio produk dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Penurunan penjualan Honda di pasar China menjadi bukti nyata tantangan yang dihadapi. Dari puncak 1,62 juta unit pada 2020, penjualan turun menjadi 640 ribu unit pada 2025, dan diproyeksikan akan berada di bawah 600 ribu unit pada 2026. Kecepatan pengembangan model baru oleh produsen China, yang dapat meluncurkan produk dalam dua tahun atau kurang, menambah kesulitan bagi merek lama yang memerlukan waktu dua kali lebih lama.
CEO Ford, Jim Farley, dan mantan CEO Toyota, Koji Sato, juga menyuarakan keprihatinan serupa. Farley mengingatkan bahwa kapasitas produksi China dapat melayani seluruh pasar Amerika Utara, sementara Sato menekankan bahwa tanpa perubahan drastis, kelangsungan perusahaan otomotif tradisional terancam.
Meski tantangan tampak besar, Mibe menegaskan komitmen Honda untuk mengurangi emisi karbon dan mengatasi perubahan iklim. Ia menyoroti tanggung jawab moral perusahaan dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, meskipun kebijakan AS memperlambat transisi global ke EV.
Langkah-langkah yang diambil Honda mencakup:
- Peningkatan investasi di riset baterai dan motor listrik.
- Pengembangan platform EV modular yang dapat diproduksi secara massal.
- Kolaborasi dengan pemasok teknologi China untuk transfer pengetahuan.
- Restrukturisasi rantai pasok agar lebih fleksibel dan otomatis.
Dengan strategi baru ini, Honda berharap dapat menutup kesenjangan dengan produsen China dan kembali bersaing di pasar global yang kini didominasi kendaraan listrik. Waktu akan menjadi penentu apakah upaya restrukturisasi ini dapat mengembalikan posisi Honda sebagai pemain utama dalam industri otomotif dunia.
