Trump Tolak Proposal Iran, Nuklir Jadi Penghalang Perdamaian di Selat Hormuz

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 29 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal Iran yang diajukan lewat mediator Pakistan, menyoroti bahwa isu nuklir tidak menjadi prioritas utama dalam tawaran tersebut. Sikap tegas Trump menambah ketegangan di kawasan Teluk Persia, khususnya di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi perdagangan minyak global.

Pada Senin 27 April 2026, dalam rapat tertutup di Situation Room Gedung Putih, pejabat senior menjelaskan isi proposal Iran. Tawaran utama mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut Amerika terhadap pelabuhan Tehran. Sebagai imbalannya, Iran menuntut agar Amerika Serikat menghentikan blokade maritim dan tidak melanjutkan operasi militer di wilayah tersebut. Namun, proposal tersebut tidak menyentuh secara langsung program nuklir Tehran, yang menjadi titik sore utama kebijakan Washington.

Baca juga:

Washington selama ini menekankan dua tuntutan utama: penghentian pengayaan uranium oleh Iran setidaknya selama satu dekade, serta penarikan kembali semua bahan uranium yang telah diperkaya. Pemerintah Trump menolak menunda pembahasan nuklir, menyatakan bahwa “isu nuklir harus diangkat sejak awal” dan bahwa menerima proposal Iran berarti mengorbankan posisi tawar Amerika di meja perundingan.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan bahwa pemerintah tidak akan bernegosiasi melalui media publik dan menolak segala kompromi yang melanggar garis merah Washington. “Kami tidak akan bernegosiasi melalui pers,” katanya, menambah bahwa keputusan Trump didasarkan pada kepentingan rakyat Amerika dan stabilitas dunia.

Negosiasi yang dimediasi Pakistan mencakup rencana gencatan senjata jangka panjang, bahkan kemungkinan menjadikannya permanen, sebelum pembicaraan nuklir dimulai. Menurut laporan Axios, Iran mengusulkan agar perundingan nuklir dimulai hanya setelah Selat Hormuz dibuka kembali dan blokade AS dicabut. Pendekatan ini dipandang oleh analis sebagai strategi Tehran untuk mempertahankan kendali strategis atas jalur pelayaran penting sebelum mengorbankan isu nuklir.

Baca juga:

Pendekatan Iran menimbulkan kekhawatiran di pasar energi global. Pada pagi 28 April 2026, harga minyak mentah naik kembali setelah data menunjukkan penurunan drastis volume tanker yang melintasi Selat Hormuz. Sebanyak enam kapal tanker bermuatan minyak Iran dipaksa kembali ke pelabuhan domestik, sementara hanya tujuh kapal berhasil melintasi selat dalam satu hari, jauh di bawah rata-rata normal 125-140 kapal per hari sebelum konflik.

Selain dampak ekonomi, dinamika politik juga terlihat jelas. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan kunjungan ke Pakistan, Oman, dan Rusia untuk mencari dukungan internasional. Di Moskow, ia bertemu Presiden Vladimir Putin yang menyatakan dukungan terhadap posisi Tehran. Sementara itu, upaya diplomasi Amerika mengalami kemunduran setelah utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner membatalkan kunjungan ke Islamabad pada akhir pekan sebelumnya.

Berbagai analis menilai bahwa penolakan Trump terhadap proposal Iran menandai titik kritis dalam upaya damai. Tanpa kesepakatan mengenai nuklir, blokade laut tetap menjadi senjata utama Washington, sementara Iran tetap berpegang pada haknya untuk memperkaya uranium berdasarkan hukum internasional. Kedua belah pihak tampak berada pada posisi stalemate, dengan harapan damai yang semakin menjauh.

Baca juga:

Berikut rangkuman poin utama proposal Iran dan respons Amerika:

  • Iran mengusulkan pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan blokade AS.
  • Negosiasi nuklir ditunda hingga tahap akhir setelah konflik maritim selesai.
  • Amerika menolak, menuntut penghentian pengayaan uranium dan penarikan bahan nuklir sejak awal.
  • Ketegangan meningkatkan volatilitas harga minyak dan mengganggu pasokan energi global.
  • Kunjungan diplomatik Iran ke negara pendukung meningkatkan tekanan pada Washington.

Ke depan, keputusan Trump dan kebijakan Washington akan sangat menentukan arah konflik ini. Jika Amerika tetap menolak proposal Iran, risiko eskalasi militer dan dampak ekonomi lebih luas akan terus mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasar energi dunia.

Kesimpulannya, ketidakpuasan Trump terhadap proposal Iran menegaskan kembali prioritas nuklir dalam agenda kebijakan luar negeri AS. Tanpa penyelesaian yang mengakomodasi kedua kepentingan strategis, prospek perdamaian di Selat Hormuz tetap tidak pasti, sekaligus menambah beban pada perekonomian global yang sudah tertekan oleh fluktuasi harga energi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *