Balita Pakai Baju Nangis: Keluarga Ungkap Kekerasan Daycare Little Aresha yang Mengguncang Yogyakarta

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 01 Mei 2026 | Warga Sleman, DIY, menyaksikan kegelisahan mendalam ketika seorang ibu memperlihatkan balita yang masih berusia tiga tahun dengan pakaian basah dan terlihat menangis terus-menerus. Anak itu, yang sebelumnya menjadi korban kekerasan di daycare Little Aresha, mengekspresikan trauma lewat perilaku aneh: selalu mengenakan baju yang basah atau terasa menetes seperti sedang menangis. Perilaku tersebut menjadi sorotan utama ketika para orang tua mengunjungi Rumah Aspirasi Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, pada Rabu (29/4/2026).

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh para korban, perwakilan orang tua, serta aktivis hak anak, Esti Wijayanti menyampaikan bahwa dampak kekerasan yang dialami tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga menimbulkan gangguan kesehatan serius. “Korban mengalami kekerasan fisik maupun mental yang cukup serius. Bahkan ada yang sudah sangat tampak dampak traumanya,” ungkapnya dalam pernyataan tertulis pada Kamis (30/4/2026). Ia menambahkan bahwa beberapa anak tidak mengalami pertumbuhan yang sesuai usia, mengindikasikan gejala stunting akibat kurangnya asupan gizi selama berada di daycare.

Baca juga:

Data yang diperoleh dari pemeriksaan medis menunjukkan bahwa mayoritas korban menderita penyakit pernapasan seperti bronkitis, pneumonia, serta infeksi kulit dan saluran kemih. Kondisi lembab, sempit, dan tidak layak di ruang daycare menjadi faktor utama penyebaran penyakit. “Selama berada di daycare, anak‑anak tidak mendapatkan asupan gizi yang memadai, mengalami dehidrasi, serta ditempatkan di ruang yang lembab, sempit, dan tidak layak,” kata Esti.

Selain dampak fisik, trauma psikologis juga sangat terasa. Banyak orang tua mengaku menangis ketika menceritakan kondisi anak mereka, menggabungkan rasa bersalah dan kemarahan. Mereka menuntut agar foto atau video anak yang tersebar di media sosial segera diturunkan, karena dianggap memperburuk kondisi mental anak. “Respons publik yang memperparah keadaan melalui perundungan digital sangat mengganggu kondisi psikologis orang tua maupun anak,” tegas Esti.

Orang tua korban menuntut pendampingan hukum menyeluruh, termasuk proses perhitungan dan pengajuan restitusi. Esti menegaskan bahwa penanganan kasus ini tidak boleh berhenti pada proses hukum semata. Negara wajib memastikan pemulihan korban berjalan optimal, terutama mengingat pemulihan trauma pada anak usia dini memerlukan waktu panjang dan pendekatan khusus.

Baca juga:

Berikut adalah rangkuman dampak kesehatan yang dilaporkan:

  • Bronkitis dan pneumonia berulang
  • Infeksi kulit dan saluran kemih (ISK)
  • Stunting akibat kekurangan gizi
  • Gangguan pertumbuhan fisik
  • Trauma psikologis yang memicu perilaku aneh seperti mengenakan baju basah terus‑menerus

Dalam waktu dekat, Komisi X DPR RI bersama pihak terkait berencana memfasilitasi pertemuan antara orang tua korban dan tim psikolog untuk memberikan pendampingan awal. Langkah tersebut diharapkan menjadi titik awal proses rehabilitasi jangka panjang, termasuk terapi psikologis intensif, program gizi khusus, serta monitoring kesehatan rutin.

Pihak kepolisian juga telah mengusut tuntas kasus kekerasan struktural di daycare Little Aresha. Namun, para ahli menilai bahwa selain proses hukum, diperlukan reformasi kebijakan daycare secara nasional. Sistem pengawasan yang ketat, standar kebersihan, serta regulasi gizi anak harus dipertegas untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.

Baca juga:

Kasus ini menambah daftar panjang kasus kekerasan anak di institusi penitipan anak di Indonesia. Masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam mengawasi fasilitas daycare, melaporkan indikasi penyalahgunaan, serta memberikan dukungan kepada korban melalui lembaga sosial dan kesehatan.

Kesimpulannya, tragedi di daycare Little Aresha tidak hanya mengungkap kegagalan institusional dalam melindungi anak, tetapi juga menyoroti kebutuhan mendesak akan intervensi medis, psikologis, dan hukum yang terintegrasi. Upaya bersama pemerintah, DPR, lembaga perlindungan anak, serta masyarakat luas menjadi kunci dalam memulihkan korban dan mencegah kejadian serupa di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *