BMRI Catat Penurunan Saham, Laba Meningkat, dan Dividen Tertinggi Sepanjang Sejarah

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 03 Mei 2026 | Pasar saham Indonesia menunjukkan tekanan pada empat bank terbesar selama seminggu terakhir. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 5,18 persen menjadi Rp 4.390 per lembar, menempati posisi ketiga terburuk setelah BBCA dan BBRI. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan aksi jual bersih investor asing senilai Rp 2,32 triliun, menjadikan BMRI sebagai sekunder terbesar dalam aliran keluar dana.

Meski harga saham tertekan, laporan kuartal pertama 2026 mengungkapkan kinerja keuangan yang menguat. Laba bersih BMRI melonjak 16,6% secara tahunan menjadi Rp 15,4 triliun, tertinggi di antara anggota Himbara (BBRI, BBNI, dan BBCA). Pertumbuhan laba dipacu oleh peningkatan kredit yang mencapai 17,4% YoY, serta dukungan kebijakan pemerintah yang menyalurkan pembiayaan ke sektor infrastruktur, rumah layak huni, dan program sosial lainnya.

Baca juga:

Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 29 April 2026 menandai pencapaian penting bagi BMRI. Dewan Direktur menyetujui pembagian dividen total Rp 44,47 triliun, setara dengan 79% laba bersih tahun buku 2025. Dividen per saham (DPS) mencapai Rp 476,95, naik dari Rp 466,18 pada tahun sebelumnya. Dengan harga penutupan saham pada hari RUPST tercatat Rp 4.430, dividend yield mencapai 10,77%, tergolong tertinggi di antara bank-bank domestik.

Penyaluran kredit BMRI selama kuartal I 2026 mencatat pertumbuhan 17,4% YoY, menempatkan bank ini di belakang BBNI (20,1%) namun di atas BBCA (5,6%). Kredit yang diarahkan pada proyek prioritas pemerintah—seperti pembangunan infrastruktur dapur makan bergizi gratis, koperasi desa, dan program tiga juta rumah—menjadi faktor utama peningkatan volume pembiayaan. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tetap stabil, mendukung likuiditas bank dalam menanggapi kebutuhan pasar.

Baca juga:

Para analis menilai bahwa fundamental BMRI tetap solid meskipun saham mengalami koreksi. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menekankan bahwa sinergi antara Himbara dan pemerintah menjadi penopang utama pertumbuhan laba. Ia menambahkan bahwa strategi penyaluran kredit yang agresif, dipadukan dengan kebijakan moneter yang masih mendukung, memperkuat prospek jangka menengah bagi BMRI.

Berikut rangkuman data kunci BMRI pada kuartal I 2026:

Baca juga:
Indikator Nilai
Harga penutupan Rp 4.390
Perubahan mingguan -5,18%
Laba bersih Q1 2026 Rp 15,4 triliun
Pertumbuhan laba YoY +16,6%
Kredit YoY +17,4%
DPS 2025 Rp 476,95
Dividend Yield 10,77%

Secara keseluruhan, meskipun BMRI mengalami tekanan harga dalam jangka pendek, prospek fundamentalnya tetap kuat. Laba yang terus tumbuh, dividen historis yang tinggi, serta peran strategis dalam menyalurkan kebijakan pemerintah menambah kepercayaan investor. Analyst memperkirakan bahwa jika tekanan pasar mereda, saham BMRI berpotensi kembali menguat, mengingat valuasi yang masih menarik dibandingkan dengan pesaing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *