PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 06 Mei 2026 | Washington pada Selasa (5/5/2026) menegaskan kembali posisi kerasnya terhadap Tehran setelah Iran menutup sebagian Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi artery penting bagi perdagangan minyak dan komoditas global. Kepala Pentagon Pete Hegseth menyampaikan bahwa AS tidak mengincar pertempuran terbuka, namun setiap serangan terhadap kapal dagang akan memicu respons “menghancurkan”. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers bersamaan dengan laporan militer bahwa pasukan Amerika berhasil mencegat rudal dan drone Iran serta menenggelamkan enam kapal kecil yang dianggap mengancam transit laut.
Dalam konteks yang lebih luas, pejabat tinggi militer Amerika, Jenderal Dan Caine, menambahkan bahwa pasukan AS siap melanjutkan operasi berskala besar bila perintah diberikan. “Tidak ada musuh yang boleh menafsirkan tindakan pembatasan kami sebagai kurangnya tekad,” ujarnya, menegaskan kesiapan Project Freedom – operasi angkatan laut yang dirancang untuk membuka kembali Strait of Hormuz.
Sementara itu, Amerika Serikat secara diplomatik menekan Beijing untuk mengambil peran lebih aktif. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Kedutaan Besar AS di Beijing, Washington meminta China turun tangan demi “menghentikan Iran” yang dianggap mengancam keamanan jalur air internasional. Permintaan tersebut muncul beriringan dengan laporan yang menunjukkan China secara ekonomi terus menopang Tehran, memberikan investasi dan bantuan perdagangan yang membantu Iran mengatasi sanksi Barat.
Iran tidak tinggal diam. Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan negara itu tetap terbuka untuk dialog, namun menegaskan kesiapan Tehran menghadapi eskalasi bila diperlukan. “Kami belum memulai serangan penuh, tetapi kami siap mempertahankan status quo baru di Strait of Hormuz,” kata Ghalibaf, mengutip komentar yang disampaikan kepada media lokal dan internasional.
Ghalibaf menambahkan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk memperumit operasi militer Amerika, termasuk penggunaan rudal balistik, jelajah, serta drone yang baru-baru ini diluncurkan ke wilayah Teluk. Beberapa serangan tersebut dilaporkan berhasil mencapai sasaran di Uni Emirat Arab, memaksa otoritas UEA menahan puluhan misil dan drone yang masuk.
Ketegangan ini memicu reaksi beragam dari negara-negara lain. Pakistan, yang berperan sebagai mediator regional, terus berupaya menjembatani dialog antara Washington dan Tehran. Namun, para pengamat menilai bahwa keberhasilan diplomasi sangat tergantung pada langkah China selanjutnya. Jika Beijing memilih untuk menolak permintaan AS dan melanjutkan dukungan ekonomi kepada Iran, tekanan politik terhadap Tehran kemungkinan akan tetap lemah.
Di sisi lain, militer AS telah meningkatkan kehadiran udara dan laut di sekitar Strait of Hormuz. Helikopter Apache AH-64 dan kapal perang kelas destroyer secara rutin melakukan patroli, sementara sistem pertahanan elektronik dipasang untuk menanggulangi ancaman drone dan misil. Laksamana Brad Cooper, komandan Pasukan AS di Timur Tengah, menegaskan bahwa Amerika tidak berniat memasuki wilayah udara Iran, tetapi tetap akan melindungi kapal dagang internasional melalui zona aman yang telah dibuka.
Berbagai data menunjukkan bahwa penutupan sebagian Selat Hormuz telah menimbulkan guncangan harga minyak dunia, memicu kekhawatiran akan krisis energi yang lebih luas. Analisis pasar mencatat peningkatan volatilitas harga minyak mentah sebesar 12% sejak awal Mei 2026, yang sebagian besar disebabkan oleh ketidakpastian tentang kelancaran pasokan melalui jalur laut strategis tersebut.
Secara keseluruhan, situasi di Strait of Hormuz kini berada pada titik kritis. Amerika Serikat menuntut China membantu melumpuhkan kemampuan Iran, sementara Tehran mengklaim kesiapan menghadapi eskalasi militer dan tetap membuka peluang dialog. Semua pihak menunggu langkah berikutnya, yang dapat menentukan arah keamanan energi global selama beberapa bulan ke depan.
