Delisting SRIL: Portofolio Lo Kheng Hong Rp31 Miliar Terancam Hilang, Apa Dampaknya Bagi Investor?

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 15 April 2026 | Jakarta, 15 April 2026 – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengumumkan bahwa PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), yang dikenal dengan merek Sritex, akan dicoret dari daftar emiten pada 10 November 2026. Keputusan ini menambah daftar 18 perusahaan yang akan mengalami delisting pada periode tersebut, termasuk SRIL yang selama ini berada dalam status suspensi perdagangan.

Pengumuman tersebut sekaligus menampilkan daftar pemegang saham dengan kepemilikan di atas satu persen. Pemegang saham pengendali PT Huddleston Indonesia masih mendominasi dengan 59,03 persen saham, sementara sejumlah investor asing seperti Chesney International Pte Ltd (4,52 %), Grafton Capital Resources Pte Ltd (4,40 %) dan Cassel International Pte Ltd (3,59 %) turut tercatat. Di antara investor domestik, nama yang paling menarik perhatian adalah Lo Kheng Hong, seorang tokoh bisnis veteran yang kini tercatat memegang 209 juta lembar saham atau setara 1,02 % dari total saham beredar.

Baca juga:

Dengan harga penutupan terakhir SRIL sebelum suspensi berada di kisaran Rp146 per lembar, nilai portofolio Lo Kheng Hong di perusahaan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp31 miliar. Nilai ini tidak hanya mencerminkan investasi pribadi, tetapi juga menjadi indikator penting bagi jaringan investor lain yang memantau pergerakan saham perusahaan tekstil terbesar di Indonesia ini.

BEI menegaskan bahwa meskipun SRIL akan delisted, perusahaan tetap wajib memenuhi kewajiban regulatif kepada otoritas pasar modal hingga proses penutupan resmi selesai. Sebagai upaya melindungi hak pemegang saham, BEI mengimbau SRIL untuk melaksanakan program buyback saham yang dijadwalkan berlangsung antara 11 Mei 2026 hingga 9 November 2026. Program tersebut diharapkan dapat menyerap sebagian saham yang beredar, sehingga nilai sisa portofolio pemegang saham, termasuk Lo Kheng Hong, tidak tergerus secara drastis.

Berikut adalah ringkasan kepemilikan saham utama SRIL menjelang delisting:

Pemegang Saham Persentase
PT Huddleston Indonesia 59,03 %
Chesney International Pte Ltd 4,52 %
Grafton Capital Resources Pte Ltd 4,40 %
Cassel International Pte Ltd 3,59 %
Kiatnakin Phatra Bank Public Company Limited 2,14 %
Lo Kheng Hong 1,02 %

Analisis pasar menunjukkan bahwa delisting SRIL tidak serta merta menimbulkan kerugian mutlak bagi pemegang saham. Jika proses buyback berjalan efektif, saham yang dibeli kembali dapat meningkatkan nilai sisa saham yang tetap beredar. Namun, risiko likuiditas tetap tinggi karena saham tidak dapat diperdagangkan di bursa setelah tanggal delisting.

Lo Kheng Hong, yang dikenal sebagai salah satu pengusaha berpengalaman di sektor tekstil dan investasi, diperkirakan akan meninjau kembali strategi portofolionya. Beberapa pakar memperkirakan bahwa tokoh tersebut mungkin akan mengalihkan dana tersebut ke sektor lain yang lebih stabil, seperti infrastruktur atau energi terbarukan, mengingat tren diversifikasi yang tengah digalakkan oleh para investor institusional.

Baca juga:

Di sisi lain, keputusan delisting ini menimbulkan pertanyaan tentang tata kelola perusahaan. SRIL sebelumnya sempat menghadapi tekanan regulatif akibat penurunan likuiditas dan ketidakmampuan memenuhi persyaratan kapitalisasi pasar. Meskipun perusahaan memiliki aset produksi tekstil yang luas, tekanan pasar dan persaingan global semakin memperkecil margin keuntungan.

Bagi investor ritel, terutama yang memiliki posisi minoritas, langkah buyback menjadi satu-satunya jalur untuk memperoleh likuiditas sebelum saham resmi dihapuskan dari sistem perdagangan. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk memantau jadwal pelaksanaan buyback dan memastikan bahwa permohonan penjualan saham tercatat tepat waktu.

Secara keseluruhan, delisting SRIL menandai akhir era publik bagi salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia. Dampaknya akan terasa tidak hanya pada nilai portofolio Lo Kheng Hong, tetapi juga pada ekosistem pasar modal yang harus menyesuaikan diri dengan pengurangan satu emiten berkapitalisasi besar. Investor disarankan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap eksposur mereka, mempertimbangkan opsi diversifikasi, dan mengikuti perkembangan kebijakan BEI terkait proses delisting dan buyback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *