PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 20 April 2026 | Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan komitmennya untuk mengatasi kemacetan kronis di kawasan exit tol Pasteur dengan mengusulkan pembangunan underpass Pasteur. Ide tersebut muncul setelah serangkaian keluhan pengendara yang mengalami antrean panjang, terutama pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Menurut penjelasan Dedi Mulyadi di Kota Bandung, kendaraan yang keluar dari tol Pasteur langsung berhadapan dengan lampu lalu lintas di Jalan Dr Djundjunan. Kondisi ini menyebabkan aliran lalu lintas terhenti, memperparah kemacetan yang sudah meluas hingga menimpa wilayah sekitarnya. “Solusinya salah satunya adalah underpass. Jadi jalur dari samping (Jalan Surya Sumantri) lewat bawah saja, sehingga kendaraan dari gerbang keluar tol Pasteur bisa terus lurus,” ujarnya.
Studi kelayakan untuk underpass Pasteur saat ini masih berada dalam tahap kajian. Gubernur berharap hasil kajian dapat selesai dalam waktu dekat, sehingga penyusunan Dokumen Engineering Design (DED) dapat dimulai. Jika anggaran dan persyaratan teknis terpenuhi, pembangunan diproyeksikan dapat dimulai pada tahun 2027.
Berikut beberapa poin penting yang menjadi dasar usulan underpass Pasteur:
- Pengurangan antrean kendaraan: Dengan jalur bawah yang memisahkan arus keluar tol dari lampu lalu lintas, waktu tempuh kendaraan dapat dipersingkat secara signifikan.
- Penurunan tingkat stres pengendara: Antrean panjang seringkali menimbulkan frustrasi dan meningkatkan risiko kecelakaan di persimpangan.
- Peningkatan konektivitas wilayah: Underpass akan menghubungkan Jalan Dr Djundjunan dengan Jalan Surya Sumantri secara lebih lancar, mendukung mobilitas antar kawasan di Bandung.
Walaupun belum ada angka pasti mengenai biaya pembangunan, Dedi Mulyadi menyatakan bahwa estimasi anggaran akan dirumuskan setelah DED selesai. “Belum kan mau dikaji dan dibuat DED-nya,” katanya, menegaskan pentingnya proses perencanaan yang matang sebelum alokasi dana.
Masalah kemacetan di exit tol Pasteur bukan hal baru. Setiap akhir pekan, kendaraan dari berbagai wilayah Jabodetabek yang keluar melalui gerbang ini menambah beban lalu lintas di jalan utama. Tanpa intervensi struktural, permasalahan ini diprediksi akan semakin memburuk seiring pertumbuhan kendaraan pribadi di kota Bandung.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga tengah melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Badan Penelitian dan Pengembangan Transportasi untuk memastikan bahwa desain underpass memenuhi standar keselamatan, kelancaran aliran, serta dampak lingkungan yang minimal.
Jika rencana underpass Pasteur terealisasi, proyek ini dapat menjadi contoh sukses integrasi infrastruktur transportasi kota yang responsif terhadap kebutuhan warga. Selain mengurangi kemacetan, proyek tersebut diharapkan dapat mempercepat distribusi barang dan jasa, meningkatkan produktivitas ekonomi lokal, serta menurunkan emisi gas buang akibat kendaraan yang terhenti lama di persimpangan.
Keberhasilan pelaksanaan underpass Pasteur juga dapat memicu munculnya inisiatif serupa di titik-titik rawan kemacetan lain di Jawa Barat. Gubernur Dedi Mulyadi menutup dengan harapan bahwa dukungan politik, anggaran, serta partisipasi publik akan menjadi pendorong utama agar proyek ini dapat selesai tepat waktu pada tahun 2027.
