PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 06 Mei 2026 | Amerika Serikat resmi meluncurkan operasi militer yang dinamakan Project Freedom pada Selasa (5/5/2026) untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang telah diblokir oleh Iran sejak akhir Februari. Menurut pernyataan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, operasi ini telah menenggelamkan enam kapal cepat milik IRGC dan berhasil mencegat sejumlah rudal jelajah serta drone yang diluncurkan dari wilayah Iran.
Operasi tersebut dilaporkan melibatkan sekitar 15.000 personel, beberapa kapal perusak bersenjata rudal kendali, serta lebih dari 100 pesawat tempur dan helikopter yang melakukan serangan terhadap target di atas air. Dalam sebuah unggahan di media sosial, Presiden Donald Trump menegaskan, “Kami telah menembak tujuh kapal kecil atau, seperti yang mereka sebut, ‘kapal cepat’. Itu saja yang mereka miliki.”
Namun, klaim penenggelaman kapal cepat Iran segera dibantah oleh pihak Tehran. Kantor berita Tasnim, yang mengutip sumber militer Iran, menyatakan bahwa serangan AS justru menargetkan dua kapal kargo kecil, menewaskan lima warga sipil. Iran menuduh Amerika melakukan aksi agresif yang melanggar gencatan senjata yang disepakati pada awal April dan menegaskan kesiapan IRGC untuk menangkis setiap ancaman militer asing di Selat Hormuz.
Insiden lain yang terjadi pada hari yang sama melibatkan sebuah tanker milik perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab (Adnoc) yang dilaporkan terkena serangan di Selat Hormuz. Korea Selatan juga mengonfirmasi ledakan pada salah satu kapal mereka yang berlabuh di dekat wilayah UEA. United Kingdom Maritime Transportation Operation (UKMTO) mencatat sebuah tanker yang terkena “proyektil tidak diketahui” pada Minggu (3/5), namun awak kapal dilaporkan selamat.
- 15.000 personel militer AS
- Kapal perusak bersenjata rudal kendali
- Lebih dari 100 pesawat tempur dan helikopter
- Aset bawah laut untuk deteksi ranjau laut
Blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah menimbulkan dampak ekonomi global yang signifikan. Sekitar 20% dari volume minyak dan gas alam cair dunia biasanya melintasi selat tersebut, sehingga penutupan jalur menyebabkan lonjakan harga bahan bakar di pasar internasional. Diperkirakan lebih dari 20.000 pelaut terjebak di Teluk Persia sejak konflik dimulai, menghadapi risiko kesehatan fisik dan mental karena keterbatasan logistik.
Di tingkat diplomatik, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai peristiwa di Selat Hormuz sebagai bukti bahwa “tidak ada solusi militer untuk krisis politik”. Sementara itu, Presiden Trump mengklaim bahwa pembicaraan antara Amerika dan Iran sedang berlangsung dalam suasana “sangat positif” dan berpotensi menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan semua pihak.
Para analis menilai bahwa operasi Project Freedom menandai eskalasi baru dalam persaingan geopolitik di Teluk Persia. Penggunaan kekuatan militer besar-besaran oleh AS dapat memicu respons balasan lebih keras dari IRGC, sementara negara-negara lain yang memiliki kepentingan maritim, seperti Uni Emirat Arab, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa, akan menuntut jaminan keamanan yang lebih kuat. Jika gencatan senjata yang dimediasi Pakistan tidak dapat dipertahankan, risiko terjadinya konflik terbuka di Selat Hormuz akan semakin tinggi.
Secara keseluruhan, operasi Project Freedom menyoroti ketegangan yang terus memuncak di wilayah strategis ini. Klaim penenggelaman enam kapal cepat Iran oleh Amerika masih dipertanyakan oleh pihak Tehran, sementara dampak ekonomi dan kemanusiaan terus dirasakan oleh dunia. Pengembangan situasi di masa depan sangat bergantung pada keberhasilan diplomasi dan kemampuan kedua belah pihak untuk menghindari konfrontasi militer yang lebih luas.
