Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius Menewaskan Tiga Penumpang, WHO Selidiki Penularan Antar Manusia

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 06 Mei 2026 | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah melakukan penyelidikan intensif terkait wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar ekspedisi berbendera Belanda, MV Hondius. Kapal tersebut membawa 149 penumpang dan awak selama pelayaran melintasi Atlantik Selatan, mulai dari Ushuaia, Argentina, hingga wilayah lepas pantai Cabo Verde, Afrika Barat. Hingga kini, tujuh kasus hantavirus terkonfirmasi atau diduga terjangkit di antara mereka yang berada di kapal, dengan tiga di antaranya meninggal dunia.

Hantavirus merupakan kelompok virus yang biasanya menular ke manusia lewat kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat. Penularan antar manusia dianggap sangat jarang, kecuali pada strain Andes yang pernah terdokumentasi di Amerika Selatan. Namun, pada wabah terkini, WHO tidak menutup kemungkinan adanya penularan terbatas antar penumpang, terutama karena tidak ditemukan infestasi tikus aktif di dalam kapal.

Baca juga:

Menurut pernyataan resmi WHO, dua kasus telah dikonfirmasi melalui uji laboratorium, sementara lima kasus lainnya masih bersifat suspek dan sedang diselidiki. Tiga korban meninggal adalah pasangan suami istri asal Belanda berusia 70 dan 69 tahun, serta seorang pria Inggris. Satu pasien kritis kini berada di ruang perawatan intensif di Afrika Selatan, dan beberapa lainnya mengalami gejala ringan menyerupai flu.

Gejala hantavirus dapat berkembang cepat dari demam, nyeri otot, dan kelelahan menjadi sindrom paru-paru akut yang berpotensi menyebabkan gagal napas. Oleh karena itu, deteksi dini dan perawatan medis intensif menjadi kunci penanganan. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, menegaskan bahwa risiko penyebaran ke masyarakat luas tetap rendah, namun otoritas kesehatan terus memantau situasi.

Berikut ini rangkuman faktor risiko dan gejala utama hantavirus yang perlu diketahui masyarakat:

  • Kontak langsung atau tidak langsung dengan kotoran atau urine tikus yang terinfeksi.
  • Inhalasi partikel aerosol yang tercemar.
  • Gejala awal: demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah.
  • Gejala berat: sesak napas, perdarahan, gagal ginjal, dan pada kasus HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) tingkat kematian mencapai 38%.

Peneliti dari Universitas New Mexico, Michelle Harkins, menekankan pentingnya pemantauan diri bagi penumpang yang menunjukkan gejala. Ia merekomendasikan mencuci tangan secara rutin, mengisolasi diri di kabin, dan memakai masker bila muncul tanda-tanda sakit. Kondisi medis yang mendasari, seperti penyakit jantung atau gangguan imun, dapat meningkatkan risiko komplikasi berat.

Baca juga:

Kapal MV Hondius kini terdampar di perairan lepas pantai Cabo Verde. Otoritas setempat bersama tim medis WHO telah memfasilitasi evakuasi medis untuk dua penumpang yang mengalami gejala serius. Sementara itu, perusahaan operator kapal, Oceanwide Expeditions, bekerja sama dengan otoritas Belanda untuk repatriasi penumpang yang masih sehat.

Para ahli virologi menyoroti perlunya analisis genetik (sequencing) virus yang diisolasi dari pasien. Vinod Balasubramaniam, pakar virologi molekuler, menyebutkan kemungkinan paparan terjadi sebelum naik kapal atau selama kegiatan darat di pulau-pulau yang dikunjungi, mengingat masa inkubasi hantavirus dapat mencapai delapan minggu.

Sejarah sebelumnya mencatat bahwa hantavirus jarang menimbulkan wabah berskala besar. Namun, kematian aktor terkenal Gene Hackman pada awal 2025 karena hantavirus menambah kesadaran publik tentang bahaya penyakit ini. Kasus di MV Hondius menjadi contoh nyata bahwa faktor lingkungan, mobilitas manusia, dan kemungkinan mutasi virus dapat menciptakan skenario penyebaran yang tidak terduga.

WHO menegaskan bahwa langkah pencegahan utama tetap pada pengendalian populasi tikus di lingkungan manusia, serta edukasi kebersihan pribadi. Masyarakat di wilayah pesisir dan pelabuhan disarankan untuk meningkatkan pengawasan kebersihan, terutama pada fasilitas penyimpanan barang dan kargo yang berpotensi menjadi jalur masuk hewan pengerat.

Baca juga:

Dengan investigasi yang masih berlangsung, para ilmuwan berharap dapat mengidentifikasi sumber pasti penularan, baik dari tikus, lingkungan, maupun kemungkinan transmisi antar manusia. Hasilnya diharapkan dapat memperkuat protokol kesehatan internasional, terutama bagi industri pariwisata laut yang rentan terhadap penyebaran penyakit zoonotik.

Selama masa investigasi, WHO meminta semua pihak untuk tidak panik, namun tetap waspada. Informasi lebih lanjut diperkirakan akan tersedia dalam 24 jam ke depan, seiring dengan analisis laboratorium dan data epidemiologi yang terus dikumpulkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *