Bupati Banyumas Janjikan Indonesia Bebas Sampah 2028, Inovasi Lokal Dorong Ekonomi Sirkular

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 30 April 2026 | Dalam kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Kabupaten Banyumas pada 28 April 2026, Bupati Sadewo Tri Lastiono menegaskan kembali komitmen daerahnya untuk mencapai target bebas sampah pada tahun 2028. Kunjungan tersebut difokuskan pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Edukasi dan Lingkungan (TPST‑BLE) di Desa Wlahar Wetan, yang menjadi contoh konkret penerapan ekonomi sirkular di tingkat kabupaten.

Presiden Prabowo menanyakan langsung progres janjinya, “Kamu benar janji ya tahun 2028 bebas sampah?” Sadewo menjawab dengan tegas, “Saya jamin, asalkan dibantu 15 TPST tambahan.” Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah telah mengajukan usulan pembangunan 15 fasilitas TPST baru dengan total anggaran sekitar Rp111 miliar, yang diharapkan dapat memperluas jaringan pengolahan sampah di seluruh kecamatan.

Baca juga:

Model TPST‑BLE tidak hanya mengolah sampah menjadi bahan bakar Refuse Derived Fuel (RDF), tetapi juga menghasilkan produk bernilai tinggi seperti palet lantai, paving block, dan selongsong pena dari limbah plastik daur ulang. Produk‑produk ini telah menarik minat pasar internasional, termasuk perusahaan di Ipoh, Malaysia, yang siap membeli palet lantai berbahan plastik daur ulang dari Banyumas. Inovasi tersebut meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Presiden Prabowo, bersama Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat dan pejabat lain, menilai model Banyumas sebagai prototipe yang dapat diduplikasi di seluruh Indonesia, khususnya di pulau Jawa yang menampung lebih dari 55% populasi nasional. Kebijakan ini sejalan dengan rencana pemerintah pusat untuk menempatkan pengelolaan sampah sebagai prioritas nasional dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dengan target zero waste to money pada 2028.

Baca juga:

Di luar Jawa, contoh sukses lain datang dari Desa Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Dipimpin oleh Didi Saputra, kelompok Sari Larva Berdaya (SLB) mengelola hingga 2 ton sampah per hari menggunakan larva Black Soldier Fly. Limbah organik diubah menjadi pakan ternak, sementara limbah kayu dan kertas diolah menjadi produk furnitur serta kertas daur ulang. Program ini tidak hanya mengurangi beban sampah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi 17 warga, termasuk kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan anak putus sekolah.

Keberhasilan kedua inisiatif ini menunjukkan bahwa pendekatan terintegrasi—dari pemilahan di sumber, pengolahan berbasis teknologi sederhana, hingga penciptaan produk bernilai ekonomi—dapat menjadi pilar utama strategi nasional menuju bebas sampah. Pemerintah pusat berkomitmen menyediakan bantuan langsung, termasuk subsidi peralatan, pelatihan teknis, dan pendanaan infrastruktur, untuk mempercepat replikasi model ini di daerah lain.

Baca juga:

Namun, tantangan tetap ada. Emisi metana dari tempat pembuangan akhir besar, seperti TPST Bantargebang, masih menjadi isu kritis. Laporan UCLA School of Law pada April 2026 mencatat bahwa TPST tersebut menghasilkan 6,3 ton metana per jam, menyoroti kebutuhan solusi teknis yang lebih canggih. Menteri Jumhur mengakui bahwa koordinasi lintas daerah, termasuk kerja sama dengan DKI Jakarta, menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini.

Dengan dukungan politik tinggi, alokasi anggaran yang jelas, serta contoh konkret dari Banyumas dan Kuala Tanjung, Indonesia berada pada posisi yang lebih kuat untuk mewujudkan visi bebas sampah pada 2028. Jika upaya ini berhasil, selain menurunkan beban lingkungan, negara juga akan memperoleh sumber pendapatan baru yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *