PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 21 April 2026 | Jakarta, 21 April 2026 – Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sebelas Maret (UNSRI) Suminto mengungkap mengapa ikan sapu-sapu yang banyak dijumpai di sungai-sungai perkotaan Indonesia tidak layak dikonsumsi. Menurutnya, perbedaan kualitas perairan antara habitat asli di Amazon dan sungai-sungai besar di Indonesia menjadi faktor utama yang membuat ikan tersebut berpotensi membahayakan kesehatan publik.
Suminto menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu (genus Hypostomus dan Pterygoplichthys) berasal dari daerah aliran sungai Amazon, di mana air masih relatif bersih dan kadar logam berat berada di bawah ambang batas aman yang ditetapkan oleh standar internasional. Di kawasan tersebut, ikan ini telah dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif dan bahkan menjadi bagian dari diet lokal di Peru serta Ekuador.
Berbeda dengan kondisi di Indonesia, khususnya di Sungai Ciliwung dan aliran‑aliran lain yang melintasi wilayah perkotaan, tingkat pencemaran logam berat mencapai angka yang mengkhawatirkan. Penelitian laboratorium mengidentifikasi konsentrasi merkuri (Hg), timbal (Pb), tembaga (Cu), serta besi (Fe) yang jauh melebihi nilai maksimum yang diperbolehkan untuk konsumsi manusia. Logam‑logam ini terakumulasi dalam jaringan otot ikan, sehingga dagingnya menjadi sumber paparan berbahaya bagi konsumen.
Data resmi Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menunjukkan besarnya upaya penangkapan ikan sapu-sapu pada bulan April 2026. Berikut rangkuman hasil operasi pada 17 April:
| Wilayah | Jumlah Ekor | Berat (ton) |
|---|---|---|
| Jakarta Selatan (Setu Babakan) | 63.600 | 5,3 |
| Jakarta Timur | 4.128 | 0,35 |
| Jakarta Pusat | 536 | 0,05 |
| Jakarta Utara | 545 | 0,06 |
| Jakarta Barat | 71 | 0,01 |
| Total | 68.880 | 6,98 |
Meski angka penangkapan cukup signifikan, Suminto menegaskan bahwa kontrol biologis saja tidak cukup. Ia mengingatkan pentingnya upaya pencegahan, termasuk regulasi perdagangan ikan hias, edukasi masyarakat, dan pemantauan kualitas air secara rutin.
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menyoroti bahwa banyaknya ikan sapu-sapu justru menjadi indikator pencemaran sungai. “Keberadaan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar menunjukkan kualitas air yang buruk, karena spesies ini mampu bertahan di lingkungan yang tercemar,” ujarnya dalam pernyataan tertulis. Ia juga memperingatkan dampak ekologis, seperti persaingan dengan ikan lokal, pengeroposan bantaran sungai akibat penggalian sarang, serta peningkatan risiko banjir.
Di sisi lain, praktik ilegal penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku siomay muncul sebagai isu baru. Pedagang seperti Wandi (Cengkareng) dan Angga (Kemanggisan) mengaku tergiur karena harga ikan sapu-sapu yang jauh lebih murah dibandingkan ikan tenggiri atau tuna. Mereka mengklaim mencampur daging ikan sapu-sapu dengan bahan lain untuk menekan biaya produksi, meskipun tidak ada bukti bahwa konsumen menyadari adanya bahan pengganti tersebut.
Risiko kesehatan yang timbul dari konsumsi ikan sapu-sapu beracun logam berat meliputi kerusakan sistem saraf, gangguan ginjal, serta potensi kanker. Suminto menambahkan bahwa proses memasak tidak dapat menghilangkan logam berat yang sudah terakumulasi di jaringan otot. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa ikan sapu-sapu sebaiknya tidak dijadikan bahan makanan, apalagi dipasarkan secara luas tanpa melalui uji keamanan pangan yang ketat.
Kesimpulannya, perbedaan kondisi perairan antara habitat asli Amazon dan sungai‑sungai Indonesia menjadi penyebab utama mengapa ikan sapu-sapu tidak layak dikonsumsi di tanah air. Upaya penangkapan massal, regulasi perdagangan, serta peningkatan kualitas air menjadi langkah penting untuk mengurangi ancaman ekologis dan kesehatan yang ditimbulkan oleh spesies invasif ini.
