PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 05 Mei 2026 | Ade Armando, tokoh akademisi, jurnalis, dan mantan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada Selasa, 5 Mei 2026, melalui konferensi pers di kantor DPP PSI, Jakarta Pusat. Keputusan ini diambil setelah 40 organisasi massa (ormas) melaporkan ia ke kepolisian atas dugaan penodaan agama. Meskipun tidak ada konflik internal dengan partai, Ade menegaskan langkah mundur tersebut demi “kebaikan bersama” dan menghindari dampak negatif yang dapat menimpa PSI.
Dalam pernyataannya, Ade Armando menyoroti bahwa serangan terhadapnya bukan sekadar pribadi, melainkan telah meluas ke partai. Ia menambahkan bahwa sejumlah kelompok menunggangi isu tersebut, mengorkestrasi serangan yang menargetkan tidak hanya dirinya, tetapi juga kader PSI lainnya, termasuk tokoh perempuan partai. “Jika hanya saya yang menjadi sasaran, saya siap hadapi. Namun ketika serangan itu diperluas ke PSI, saya tidak dapat menerima hal itu,” ujarnya.
Ade juga menekankan bahwa kritik dan video yang ia buat di Cokro TV tidak berada di bawah instruksi atau pengetahuan PSI. “Video itu sepenuhnya kerja jurnalistik saya, tidak ada konsultasi dengan pimpinan PSI,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan tanggung jawab pribadi, tidak mencerminkan sikap politik partai.
Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, mengonfirmasi penerimaan pengunduran diri Ade Armando. Ali menyatakan bahwa DPP PSI menghargai kebebasan pendapat anggota dan menerima keputusan tersebut dengan rasa hormat. “Kami kehilangan seorang pemikir dan pengawas moral yang kritis, namun keputusan Ade diambil demi kepentingan bersama,” tambahnya.
Pengunduran diri ini menimbulkan spekulasi mengenai implikasi politik bagi PSI. Sebagai partai yang relatif muda, PSI sangat bergantung pada tokoh-tokoh intelektual untuk membangun citra reformis dan kritis. Kehilangan Ade Armando, yang memiliki rekam jejak panjang sebagai dosen FISIP UI, mantan redaktur media, dan komisaris di sektor energi, dapat memengaruhi dinamika internal serta strategi komunikasi partai ke depan.
Selain latar belakang politik, profil akademik Ade Armando turut menjadi sorotan. Lahir di Jakarta pada 24 September 1961, ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Bogor sebelum melanjutkan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Ia meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi di UI, serta Master of Science dalam bidang population studies dari Florida State University, Amerika Serikat. Pada 2006, ia memperoleh gelar doktor dari UI. Karier jurnalistiknya mencakup peran di Jurnal Prisma, LP3ES, dan harian Republika, serta posisi manajerial di lembaga riset media ternama.
Kasus laporan 40 ormas ke polisi menambah kompleksitas situasi. Sebagian laporan menyebut dugaan penodaan agama terkait potongan ceramah mantan Presiden Jusuf Kalla yang diunggah di media sosial. Ade menolak tuduhan tersebut dan menegaskan tidak pernah menghasut atau memprovokasi pihak manapun. Ia memperkirakan laporan tersebut tidak akan dicabut dan menilai upaya tersebut sebagai serangan terkoordinasi untuk melemahkan PSI.
Di sisi lain, pimpinan PSI, termasuk Kaesang Pangarep, menyatakan kesiapan untuk tetap bekerja sama dengan Ade meski ia tidak lagi menjadi kader partai. “Kami tetap menghargai kontribusi Ade dan terbuka untuk dialog konstruktif,” ujar Kaesang dalam pernyataan tertulis.
Pengunduran diri Ade Armando juga memicu reaksi publik di media sosial. Banyak netizen yang menyatakan dukungan kepada keputusan tersebut, sementara yang lain menilai langkah itu sebagai konsekuensi wajar dari kebebasan berpendapat di arena politik. Beberapa komentar menyoroti pentingnya perlindungan hukum bagi tokoh publik yang menjadi sasaran fitnah atau serangan berbasis agama.
Secara keseluruhan, mundurnya Ade Armando dari PSI menandai titik balik dalam dinamika internal partai dan menimbulkan pertanyaan mengenai strategi komunikasi PSI ke depan. Partai harus menyeimbangkan antara menjaga kebebasan berpendapat anggotanya dan melindungi citra partai dari serangan eksternal yang dapat mengganggu agenda politiknya.
Ke depan, PSI diperkirakan akan memperkuat mekanisme internal untuk menanggapi kontroversi serupa, sekaligus memperluas basis dukungan di kalangan pemilih muda yang menghargai kebebasan berpendapat. Bagi Ade Armando, langkah mundur ini diyakini sebagai upaya melindungi integritas pribadi dan partai dari dampak negatif yang lebih luas.
