Muktamar Ke-35 NU: Gus Yusuf Dukung untuk Pimpin PBNU

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 19 Juli 2026 | Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Tambak Beras, Jombang, pada akhir Agustus 2026, memasuki fase yang semakin menarik. Sejumlah nama telah menyatakan kesiapan ataupun mulai melakukan konsolidasi dukungan untuk memperebutkan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Salah satu perkembangan paling signifikan adalah dukungan terhadap KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, untuk maju sebagai calon ketua umum PBNU. Sebanyak 22 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Jawa Tengah secara terbuka memberikan dukungan melalui Lamaran Agung Maklumat Dukungan di Pondok Pesantren API Tegalrejo.

Baca juga:

Dukungan tersebut tidak hanya memperlihatkan kekuatan jaringan pesantren, tetapi juga mengonfirmasi bahwa politik NU masih bertumpu pada legitimasi genealogis dan otoritas kultural para kiai besar. Kemunculan Gus Yusuf melengkapi daftar kandidat yang sebelumnya telah menghiasi ruang publik, seperti petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang menyatakan kesiapannya kembali maju sebagai Ketua Umum PBNU.

Menurut Ketua PCNU Kab. Semarang KH Ahmad Fauzan, dukungan tersebut berdasarkan pada keinginan untuk memiliki kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen NU dan mengembalikan fokus organisasi pada khidmah kepada umat dan jam’iyah. Gus Yusuf dinilai memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren, pengalaman organisasi, serta kemampuan menjembatani berbagai kelompok di lingkungan NU.

Baca juga:

Terpilihnya logo Muktamar Ke-35 NU karya M Shofa Ulum Azmi, seorang alumnus Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur, juga menjadi catatan tersendiri. Logo tersebut merepresentasikan hubungan saling menguatkan antara Syuriah dan Tanfidziyah dalam mengemban khidmah Nahdlatul Ulama.

Namun, dinamika politik internal NU juga menimbulkan pertanyaan tentang reproduksi elite tradisional dan oligarki organisasi. Dominasi elite genealogis dapat menghadirkan persoalan struktural, seperti akses menuju kepemimpinan tertinggi yang lebih banyak ditentukan oleh garis keturunan dan jaringan pesantren besar, sehingga ruang mobilitas sosial kader NU dari berbagai daerah menjadi semakin sempit.

Baca juga:

Untuk itu, diperlukan keseimbangan antara tradisi pesantren dan prinsip meritokrasi serta regenerasi yang sehat dalam memilih kepemimpinan NU. Dengan demikian, organisasi dapat terus berkembang dan memperkuat peranannya dalam masyarakat.

Kesimpulan, Muktamar Ke-35 NU menjadi momentum penting bagi organisasi untuk memperkuat persatuan dan memilih kepemimpinan yang tepat untuk memimpin PBNU ke depan. Dukungan terhadap Gus Yusuf dan terpilihnya logo Muktamar Ke-35 NU merupakan langkah awal dalam proses ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *