PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 15 April 2026 | Jakarta, 14 April 2026 – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengecam keras pernyataan mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dianggap menghina Paus Leo XIV. Dalam sebuah unggahan di platform X pada Senin (13/4/2026), Pezeshkian menegaskan bahwa penghinaan terhadap pemimpin Gereja Katolik serta tokoh agama tidak dapat ditoleransi, apalagi bila disampaikan oleh seorang mantan kepala negara yang masih memiliki pengaruh politik signifikan.
Trump, yang baru-baru ini mengunggah gambar buatan kecerdasan buatan (AI) menampilkan dirinya dalam pose menyerupai Yesus, menuduh Paus Leo XIV lemah dalam menghadapi kejahatan dan menyebut kepemimpinan Paus sebagai “tidak efektif” dalam urusan internasional. Ia juga menyatakan tidak akan meminta maaf atas komentar tersebut, menambahkan bahwa Paus tidak dapat menghalangi kebijakan luar negeri Amerika Serikat, khususnya terkait isu nuklir Iran.
Reaksi Pezeshkian tidak hanya bersifat retoris. Ia menuliskan, “Saya mengecam penghinaan terhadap Paus dan menegaskan bahwa penodaan terhadap Yesus, nabi perdamaian dan persaudaraan, tidak dapat diterima oleh siapa pun yang menjunjung kebebasan.” Pernyataan itu disertai dengan kutipan dari juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, yang menambahkan bahwa serangan verbal terhadap Paus merupakan serangan terang-terangan terhadap upaya perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan di tengah gemuruh konflik global.
Kementerian Luar Negeri Iran menyoroti bahwa Paus Leo, yang merupakan pemimpin Gereja Katolik pertama kelahiran Amerika Serikat, baru-baru ini mengkritik operasi militer Amerika Serikat‑Israel yang melibatkan Iran. Paus menekankan pentingnya dialog dan menolak retorika yang mengancam kehancuran peradaban Iran. Kritik tersebut menjadi salah satu pemicu utama kemarahan Trump, yang menuduh Paus “menyebarkan kebohongan” tentang kebijakan luar negeri Amerika.
Reaksi politik di Eropa juga menggemparkan. Politisi Italia, termasuk pemimpin partai Lega Matteo Salvini dan perdana menteri Giorgia Meloni, ikut mengkritik pernyataan Trump. Mereka menilai serangan pribadi terhadap Paus tidak pantas bagi tokoh simbol perdamaian dunia. Salvini menambahkan bahwa “menyerang Paus dengan kata‑kata kasar hanya memperparah polarisasi dan mengalihkan perhatian dari isu‑isu nyata seperti migrasi dan keamanan energi“.
Sementara itu, wakil presiden Amerika Serikat JD Vance, dalam wawancara dengan Fox News, meminta Vatikan untuk lebih fokus pada urusan moral daripada terlibat dalam perseteruan politik. Paus Fransiskus menanggapi secara tenang, menyatakan tidak takut pada pemerintahan Trump dan menegaskan bahwa peran kepemimpinan Gereja Katolik tetap berlandaskan pada prinsip‑prinsip keagamaan, bukan politik.
Insiden ini menambah ketegangan diplomatik yang sudah memuncak antara Amerika Serikat dan Iran. Amerika Serikat terus menekan Tehran untuk menghentikan program nuklirnya, sementara Iran menegaskan haknya atas pengembangan energi damai. Pernyataan Trump yang mengaitkan Paus dengan kebijakan anti‑Iran memperkuat persepsi bahwa konflik ideologis kini meluas ke ranah agama.
Kesimpulannya, serangan verbal Donald Trump terhadap Paus Leo XIV memicu kecaman luas dari Presiden Iran, pejabat diplomatik, serta politisi Italia. Kritik tersebut menyoroti batasan antara kebebasan berpendapat dan penghinaan terhadap tokoh keagamaan, serta menegaskan bahwa retorika provokatif dapat memperburuk ketegangan internasional yang sudah rapuh.
