PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 18 April 2026 | Jakarta, 18 April 2026 – Dalam sebuah wawancara eksklusif yang digelar di sebuah hotel elit di pusat kota, pengusaha wanita asal Indonesia, Mintarsih, mengungkapkan bahwa ia pernah melihat dua nama yang pernah masuk dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes. Kedua tokoh tersebut bukan hanya dikenal karena kekayaan pribadi mereka, tetapi juga memimpin konglomerasi yang menguasai sektor-sektor strategis di tingkat global.
Menurut Mintarsih, nama pertama yang ia sebutkan adalah Mukesh Ambani, keturunan keluarga Ambani yang mengendalikan Reliance Industries, sebuah raksasa energi, telekomunikasi, dan teknologi asal India. Reliance Industries, yang didirikan pada akhir 1950-an oleh Dhirubhai Ambani, kini berada di bawah kepemimpinan Mukesh Ambani setelah proses suksesi yang berlangsung sejak kematian sang pendiri pada 2002. Di bawah arahan Mukesh, Reliance telah memperluas portofolio bisnisnya menjadi lebih dari sekadar minyak dan gas, meliputi layanan digital, ritel, serta energi terbarukan. Pada Februari lalu, harga saham Reliance mencatat kenaikan signifikan sebesar 12 persen, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap strategi ekspansi yang agresif. Forbes menempatkan Mukesh Ambani dalam jajaran orang terkaya dunia dengan perkiraan kekayaan mencapai hampir USD 90 miliar, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh di Asia.
Nama kedua yang disebutkan Mintarsih adalah Zhang Bo, putra dari pendiri keluarga Zhang yang mengelola dua raksasa industri di Tiongkok: China Hongqiao Group, produsen aluminium terkemuka, dan Weiqiao Textile, pemain utama dalam industri tekstil. Zhang Bo mengambil alih kepemimpinan unit aluminium setelah ayahnya, Zhang Shiping, meninggal pada 2019, sementara adik perempuannya, Zhang Hongxia, memimpin divisi tekstil. Kombinasi dua bisnis ini memungkinkan keluarga Zhang menguasai pasar global dalam bahan baku penting untuk teknologi tinggi, termasuk produsen smartphone seperti Huawei dan Xiaomi, serta produsen kendaraan listrik seperti BYD. Forbes mencatat kekayaan keluarga Zhang mendekati USD 45 miliar, menempatkan mereka di antara keluarga terkaya di Asia.
Mintarsih menekankan bahwa keberhasilan kedua tokoh tersebut tidak lepas dari kemampuan mereka mengelola transisi generasi secara mulus. Pada keluarga Ambani, suksesi antara generasi pertama ke generasi kedua berjalan lancar meski terjadi perpecahan internal antara dua bersaudara, Mukesh dan Anil. Sementara di keluarga Zhang, proses estafet kepemimpinan melibatkan pembagian peran yang jelas antara saudara kandung, memungkinkan fokus pada inovasi di masing-masing bidang usaha.
Selain menyoroti profil kedua tokoh, Mintarsih juga menyoroti dampak ekonomi yang dihasilkan oleh konglomerasi mereka. Reliance Industries, misalnya, berkomitmen mengalokasikan USD 110 miliar dalam tujuh tahun ke depan untuk membangun infrastruktur pusat data di seluruh India, sebuah langkah strategis yang diharapkan mempercepat digitalisasi ekonomi negara. Di sisi lain, China Hongqiao Group meningkatkan kapasitas produksi aluminium dengan memanfaatkan energi terbarukan, mendukung agenda dekarbonisasi global. Kedua perusahaan ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja dalam skala jutaan, tetapi juga mempengaruhi kebijakan ekonomi di negara masing-masing.
Mintarsih menambahkan bahwa keberadaan kedua tokoh dalam daftar Forbes memberi inspirasi bagi para pengusaha di Indonesia, khususnya generasi muda, untuk mengadopsi strategi diversifikasi dan inovasi berkelanjutan. “Kita dapat belajar bahwa tidak cukup hanya mengandalkan satu sektor. Baik Mukesh Ambani maupun Zhang Bo menunjukkan pentingnya memperluas cakupan bisnis, memanfaatkan teknologi, serta menjaga kesinambungan antar generasi,” ujar Mintarsih.
Dengan menelusuri jejak kesuksesan mereka, Mintarsih berharap Indonesia dapat mengembangkan ekosistem bisnis yang lebih dinamis, memfasilitasi kolaborasi lintas sektoral, serta menyiapkan generasi pemimpin yang siap menavigasi tantangan ekonomi global. Ia menutup pembicaraan dengan menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif, sekaligus mendukung inovasi melalui kebijakan yang berpihak pada perkembangan teknologi dan energi bersih.
Kesimpulannya, dua nama yang disebutkan Mintarsih – Mukesh Ambani dan Zhang Bo – tidak hanya mencerminkan puncak kekayaan pribadi, tetapi juga menandakan kekuatan konglomerat yang mempengaruhi arus ekonomi dunia. Keduanya menjadi contoh nyata bagaimana visi jangka panjang, inovasi, dan manajemen transisi generasi dapat menghasilkan nilai ekonomi yang luar biasa, sekaligus memberi inspirasi bagi para pelaku usaha di Indonesia untuk mengukir prestasi serupa di panggung global.
