PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 02 Mei 2026 | Pasar energi dunia kembali berada di ujung tanduk setelah negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran terhenti. Kegagalan diplomatik tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah yang kini mendekati US$120 per barel, menambah beban pada perekonomian global yang sudah bergejolak.
Harga acuan Brent, yang biasanya menjadi barometer utama pasar minyak internasional, sempat menembus US$126,41 pada perdagangan Kamis (30/4) sebelum merosot menjadi US$115,8 seiring berkurangnya volume transaksi. Sementara West Texas Intermediate (WTI) mencatat penurunan tipis 0,7% menjadi US$106 per barel. Kedua indeks tersebut mencerminkan ketegangan yang terus menggelayuti Selat Hormuz, jalur penyebrangan utama minyak dunia.
Penutupan sebagian Selat Hormuz sejak awal konflik bersenjata antara AS dan Iran telah menghambat aliran jutaan barel minyak per hari. Akibatnya, produsen dan konsumen di seluruh dunia menghadapi kenaikan biaya produksi yang signifikan. Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin mencapai US$4,30 per galon atau setara Rp19.687 per liter, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Kenaikan harga minyak mentah tidak hanya berdampak pada sektor transportasi. Produk turunannya seperti plastik, karet sintetis, dan tekstil juga mengalami kenaikan harga. Di Asia, khususnya, kelangkaan barang-barang penting seperti sarung tangan medis, mie instan, dan kosmetik mulai terasa akibat tingginya biaya produksi dan gangguan rantai pasok.
- Kenaikan harga BBM memperburuk inflasi konsumen.
- Biaya produksi barang turun minyak meningkat, menekan margin produsen.
- Pasokan energi yang tidak stabil mengancam pertumbuhan ekonomi regional.
Para ekonom memperingatkan bahwa jika gangguan pasokan di Selat Hormuz berlanjut hingga paruh kedua 2026, risiko resesi global akan semakin nyata. Inflasi yang melambung dan daya beli konsumen yang menurun dapat memicu kontraksi ekonomi di banyak negara, terutama yang sangat bergantung pada impor energi.
Vandana Hari, pendiri Vanda Insights, menegaskan, “Harga minyak tidak punya pilihan selain naik sampai pembukaan kembali selat secara permanen terwujud. Saat ini, bagaimana dan kapan itu akan terjadi masih menjadi tebak‑tebakan siapa pun.” Pernyataan tersebut menggarisbawahi ketidakpastian yang melanda pasar energi dan menambah tekanan pada kebijakan moneter serta fiskal di berbagai negara.
Di sisi lain, beberapa negara produsen minyak mencoba memanfaatkan situasi ini dengan meningkatkan produksi untuk menstabilkan pasar. Namun, upaya tersebut belum cukup mengimbangi penurunan pasokan dari jalur utama, sehingga volatilitas harga tetap tinggi.
Dalam jangka menengah, para analis memperkirakan harga minyak mentah dapat berfluktuasi antara US$115 hingga US$130 per barel, tergantung pada perkembangan diplomatik dan kebijakan penutupan Selat Hormuz. Sementara itu, konsumen dan industri harus bersiap menghadapi biaya energi yang lebih tinggi serta potensi gangguan suplai barang-barang penting.
Dengan negosiasi damai yang masih mandek, dunia menantikan langkah konkret dari kedua belah pihak untuk membuka kembali jalur transportasi minyak utama. Tanpa solusi diplomatik, tekanan pada harga minyak mentah akan terus berlanjut, memperparah inflasi dan mengancam stabilitas ekonomi global.
