Harga Pertamax Melonjak, Pemerintah Didesak Jaga Subsidi BBM

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 14 Juni 2026 | Harga Pertamax telah mengalami kenaikan, dan hal ini telah menjadi perhatian masyarakat. Menurut Guru Besar Ekonomi Mikro Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Eeng Ahman, kenaikan harga Pertamax merupakan langkah korporasi yang rasional. Namun, pemerintah didesak untuk tetap memperketat perlindungan terhadap kuota dan stabilitas harga BBM bersubsidi.

Prof. Eeng Ahman menjelaskan bahwa kombinasi lonjakan harga minyak mentah dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah secara otomatis meningkatkan struktur biaya impor energi. Geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak global yang berdampak langsung pada biaya pengadaan BBM.

Baca juga:

Sebagai entitas bisnis yang beroperasi dalam mekanisme pasar, Pertamina dinilai harus mengambil keputusan penyesuaian harga. Langkah ini krusial untuk menjaga keberlanjutan usaha perusahaan dan menghindari potensi kerugian besar akibat biaya operasional yang membengkak.

Keputusan menaikkan harga Pertamax ini mencerminkan adaptasi korporasi terhadap realitas ekonomi global. Hal ini juga menunjukkan bahwa harga BBM non-subsidi sangat sensitif terhadap perubahan kondisi pasar internasional dan nilai tukar mata uang.

Meskipun kenaikan harga Pertamax dianggap rasional, pemerintah diingatkan untuk tidak mengusik keberadaan BBM bersubsidi dalam waktu dekat. Instrumen subsidi sektor energi saat ini berfungsi sebagai satu-satunya pelindung produktivitas usaha mikro.

Prof. Eeng menekankan bahwa subsidi BBM seperti Pertalite dan Biosolar berperan vital sebagai bantalan daya beli masyarakat rentan. Tanpa perlindungan ini, dikhawatirkan akan memicu inflasi pangan yang lebih luas dan berdampak negatif pada perekonomian.

Baca juga:

Dampak rambatan atau multiplier effect dari kenaikan harga BBM, terutama pada sektor UMKM, transportasi, dan kuliner, harus dimitigasi. Salah satu cara paling realistis dalam jangka pendek adalah mendorong efisiensi penggunaan BBM di semua lini, baik oleh masyarakat maupun pelaku usaha.

Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, memperkirakan 10 persen dari konsumen bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92) akan pindah ke Pertalite menyusul naiknya harga BBM nonsubsidi tersebut.

Yayan menyampaikan, ketika harga Pertamax naik, orang-orang tidak mengurangi intensitas bepergian, tetapi berpindah ke BBM Pertalite yang lebih murah. Harga BBM jenis Pertamax (RON 92) yang sebelumnya Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, harga Pertalite stabil di level Rp10.000 per liter.

Selisih harga antara keduanya sebesar Rp6.250 per liter, terlebar dalam sejarah. Tetapi kuota Pertalite masih cukup untuk menampung perpindahan ini. Hanya sekitar sepertiga dari sisa kuota yang akan terpakai.

Baca juga:

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menyatakan pihaknya akan mengingatkan pemerintah agar program-program strategis dapat berjalan efektif dan tepat sasaran. Fraksi Golkar di DPR juga berjanji memperkuat fungsi pengawasan terhadap penggunaan anggaran negara.

Kesimpulan dari kenaikan harga Pertamax adalah bahwa pemerintah harus tetap memperketat perlindungan terhadap kuota dan stabilitas harga BBM bersubsidi, serta mendorong efisiensi penggunaan BBM di semua lini. Dengan demikian, dampak negatif dari kenaikan harga BBM dapat dimitigasi, dan perekonomian dapat tetap stabil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *