PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 16 Juni 2026 | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan sinyal positif untuk melakukan impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Hal ini terjadi setelah jalur perdagangan di Selat Hormuz kembali dibuka, berkat kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menurut Bahlil, Indonesia tetap menghormati kontrak impor minyak dan gas bumi (migas) jangka panjang yang telah disepakati dengan negara-negara lain. Namun, jika harganya lebih kompetitif, maka tidak menutup kemungkinan juga untuk mencoba membuka akses pasar di Timur Tengah.
Sementara itu, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman juga menyampaikan bahwa Indonesia masih sangat terbuka untuk menjalin kontrak baru dalam impor migas. Ia menekankan bahwa peluang ini terbuka lebar, terutama setelah pelayaran di Selat Hormuz kembali normal.
Di sisi lain, Sentinel Energy Indonesia (SEI) mengkritik keras pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait jaminan keamanan pasokan batubara nasional. SEI menilai klaim pemerintah yang menyebut gangguan listrik hanya masalah teknis operasional tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Menurut SEI, sistem kelistrikan Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) saat ini justru tengah menghadapi tekanan serius akibat penurunan Hari Operasi Pembangkit (HOP) di sejumlah PLTU yang sudah mendekati batas minimum operasional. Penurunan HOP tersebut bukan lagi sekadar indikator teknis, melainkan sinyal nyata bahwa stok batubara di sejumlah pembangkit berada dalam kondisi tertekan akibat tersendatnya pasokan dari hulu hingga logistik distribusi.
SEI menegaskan bahwa akar persoalan utama berada pada perubahan kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara nasional di bawah kewenangan Kementerian ESDM yang dipimpin Bahlil Lahadalia, terutama perubahan skema produksi dan ketidakpastian persetujuan yang berjalan di sektor hulu.
Sementara itu, Bahlil juga mengalokasikan anggaran untuk pengadaan kompor listrik sebagai bagian dari konversi penggunaan gas LPG. Bahlil mengatakan, kompor listrik generasi terbaru kini lebih ramah bagi rumah tangga dengan daya listrik terbatas, termasuk pelanggan 900 VA ke bawah.
Adapun, pada 2027 mendatang, Bahlil mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,45 triliun untuk program motor listrik dan kompor listrik dalam pagu indikatif Kementerian ESDM. Program motor listrik memperoleh alokasi sebesar Rp635,24 miliar, sementara program kompor listrik mendapatkan anggaran lebih besar yakni Rp815,56 miliar.
Menurut Bahlil, tujuan utama kebijakan tersebut adalah menjaga harga komoditas tetap baik sekaligus memastikan volume produksi tetap tinggi sehingga memberikan manfaat optimal bagi perekonomian nasional.
Dalam kesimpulan, kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait impor minyak dari Timur Tengah dan kebijakan batu bara memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi yang lebih lanjut untuk memastikan kebijakan tersebut dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
