PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 05 Juni 2026 | Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat, mencapai level Rp18.015 per dolar AS. Kondisi ini memunculkan perbandingan menarik dengan mata uang negara tetangga, seperti ringgit Malaysia, yang terlihat lebih stabil dalam perdagangan terbaru.
Mengacu data perdagangan Kamis pagi, rupiah kembali melemah terhadap dolar AS hingga berada di level Rp18.015 per dolar AS atau turun 0,27 persen. Posisi ini menandai salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut tidak lepas dari kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang.
Di dalam negeri, sentimen pasar juga belum cukup kuat untuk menopang pergerakan rupiah secara signifikan. Meski demikian, Bank Indonesia diperkirakan tidak akan tinggal diam. Intervensi di pasar valas dinilai akan diperkuat untuk menjaga stabilitas rupiah agar tidak terus tertekan di level psikologis baru.
Pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif di rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS dalam waktu dekat. Sementara itu, ringgit Malaysia justru menunjukkan pergerakan yang relatif lebih stabil bahkan cenderung menguat tipis terhadap dolar AS pada perdagangan terbaru.
Menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia terhadap rupiah membawa dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi Kalimantan Barat. Dalam beberapa pekan terakhir, arus wisatawan asal Malaysia, khususnya dari Kuching, Sarawak, terlihat meningkat dan mulai menggerakkan berbagai sektor usaha, mulai dari hotel, kuliner hingga jasa penukaran uang.
Wisatawan Malaysia semakin tertarik berkunjung ke Indonesia karena nilai tukar ringgit yang tinggi membuat daya beli mereka meningkat. Mereka melihat kurs rupiah murah, jadi satu ringgit bisa dapat sekitar Rp 4.500. Itu membuat mereka lebih tertarik datang ke sini untuk belanja atau kuliner.
Fenomena ini tidak lepas dari kondisi nilai tukar rupiah yang sedang tertekan terhadap beberapa mata uang utama kawasan. Pada akhir Mei 2026, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah dalam sejarahnya terhadap ringgit Malaysia.
Saat ini, Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan Malaysia, terutama untuk sektor ritel, kuliner, hingga oleh-oleh. Hal ini juga diakui dalam penjelasan konten yang menyinggung faktor utama di balik fenomena wisata belanja ini.
Di sisi lain, pelemahan rupiah memang dapat memberikan dampak ganda. Di satu sisi, sektor pariwisata berpotensi mendapatkan keuntungan karena meningkatnya minat wisatawan asing yang merasa mendapatkan nilai tukar lebih menguntungkan. Hotel, transportasi, hingga pusat perbelanjaan bisa merasakan peningkatan transaksi dari wisatawan regional.
Namun, perlu diingat bahwa pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya impor sejumlah bahan baku strategis yang masih dibutuhkan sektor pertanian dan perikanan nasional. Kenaikan biaya impor tersebut dinilai dapat meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor, termasuk pertanian, peternakan, dan perikanan.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mewaspadai dampak pelemahan rupiah pada sektor pangan nasional. Perlu dilakukan evaluasi berbagai faktor domestik yang memengaruhi kondisi tersebut, termasuk arus modal keluar dan sentimen pasar.
Komisi IV DPR RI mendorong pemerintah mempercepat program swasembada pangan guna mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi dampak gejolak ekonomi global terhadap sektor pangan.
Upaya yang dapat dilakukan antara lain melalui penguatan industri pakan lokal, pengembangan benih unggul nasional, serta pemberian subsidi yang tepat sasaran bagi petani dan nelayan. Dengan demikian, Indonesia dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan kondisi global.
