PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 26 Mei 2026 | Rupiah melemah 27 poin ke Rp17.744 per dolar AS di awal pekan, dipengaruhi tekanan eksternal dan internal yang kuat. Sinyal kebijakan suku bunga tinggi dari The Fed serta defisit anggaran domestik memperburuk sentimen pasar terhadap rupiah.
Meski ada harapan damai AS-Iran, rupiah diproyeksikan tetap fluktuatif dan cenderung melemah di kisaran Rp17.740–Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan dari sisi eksternal, pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh sinyal kebijakan moneter ketat dari Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Pada Sabtu lalu, salah satu Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target yang ditentukan.
Kemungkinan besar, pandangan ini sejalan dengan pejabat bank sentral lainnya. Walaupun Presiden AS Donald Trump tidak menyerukan penurunan suku bunga dalam kondisi saat ini, pasar membaca adanya potensi era suku bunga tinggi atau higher for longer masih akan bertahan hingga akhir 2026.
Di samping itu, ketidakpastian pasar diperkirakan terus berlanjut karena pekan ini diwarnai rilis data ekonomi penting AS. Salah satunya adalah tentang Produk Domestik Bruto kuartal pertama tahun 2026, kemudian data perumahan, kemudian indikator inflasi pilihan Fed, kemudian indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah justru semakin berat akibat sentimen internal yang kurang kokoh. Ibrahim menjelaskan masalah defisit anggaran masih menjadi momok utama bagi para pelaku pasar. Dampaknya begitu kuat hingga penurunan harga minyak mentah dunia sekalipun belum mampu menghadirkan sentimen positif bagi rupiah, membuat mata uang rupiah melemah sendiri di saat mata uang negara tetangga bergerak menguat.
Bank Indonesia (BI) memastikan keputusan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 tidak akan membebani pelaku UMKM, meski rupiah tengah berada dalam tekanan akibat gejolak global.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan kebijakan kenaikan suku bunga memang terkesan kontraktif. Namun di saat yang sama BI tetap menjalankan langkah ekspansif untuk menjaga likuiditas di sistem perbankan.
BI tetap memastikan likuiditas perbankan dalam kondisi longgar sehingga kenaikan suku bunga tidak otomatis membuat kredit semakin memberatkan masyarakat maupun UMKM.
Destry menjelaskan BI telah memberikan pelonggaran likuiditas kepada perbankan melalui kebijakan makroprudensial, termasuk relaksasi Giro Wajib Minimum (GWM).
Kondisi likuiditas perbankan saat ini masih sangat aman dan jauh di atas standar minimum. Destry menegaskan kenaikan BI Rate menjadi keputusan yang perlu dilakukan karena tekanan global masih sangat tinggi, terutama akibat suku bunga AS yang diperkirakan bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer.
Penguatan dolar AS juga terjadi terhadap hampir seluruh mata uang dunia, bukan hanya rupiah. BI telah menempuh tujuh langkah stabilisasi sebelum akhirnya memutuskan menaikkan suku bunga acuan.
Kenaikan BI Rate diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang dianggap masih kurang solid. Selain itu, kebijakan ini diharapkan dapat mendorong inflow investor asing ke pasar keuangan Indonesia.
Untuk itu, rupiah diprediksi akan terus mengalami tekanan dan melemah dalam beberapa waktu ke depan. Namun, dengan kebijakan yang tepat dari BI dan pemerintah, diharapkan rupiah dapat kembali stabil dan menguat dalam jangka panjang.
Kesimpulan dari berita ini adalah bahwa rupiah saat ini sedang mengalami tekanan akibat suku bunga AS dan defisit anggaran. Namun, dengan kebijakan yang tepat dari BI dan pemerintah, diharapkan rupiah dapat kembali stabil dan menguat dalam jangka panjang.
