PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 30 April 2026 | Ritual siraman pada pernikahan tradisional Jawa kembali menjadi sorotan publik setelah calon mempelai pria, El Rumi, mengenakan rompi khusus yang dirancang oleh desainer ternama Didiet Maulana. Rompi tersebut tidak sekadar pakaian, melainkan simbol budaya yang memadukan elemen Regency Inggris dengan kearifan lokal, menandai transformasi spiritual dan kedewasaan sang calon suami.
Didiet Maulana, lewat label Svarna by IKAT Indonesia, menciptakan sebuah waistcoat berwarna krem cerah dengan potongan tanpa lengan yang terinspirasi dari gaya Regency awal abad ke-19. Gaya Regency, yang kini kembali populer lewat serial televisi “Bridgerton”, menonjolkan siluet elegan, kerah berdiri, serta detail jahitan yang rapi. Dalam konteks siraman, rompi El menampilkan kombinasi tersebut secara halus namun tetap menghormati tradisi Jawa.
Penggunaan rompi sebelum dan sesudah prosesi siraman memiliki makna filosofis mendalam. Sebelum El dimandikan, rompi berfungsi sebagai “lapisan kesiapan mental”—sebuah perlindungan simbolik yang menandakan bahwa calon mempelai telah siap menerima pembersihan spiritual. Setelah air siraman menyucikan tubuhnya, rompi dipakaikan kembali, menegaskan bahwa ia kini telah bersih secara fisik dan spiritual, siap melangkah ke babak baru kehidupan berumah tangga.
Detail bordir pada rompi menampilkan motif tumbuhan yang melambangkan doa untuk pertumbuhan hidup yang subur. Warna biru langit dipilih untuk menyeimbangkan nuansa krem, menciptakan harmoni antara modernitas dan budaya Nusantara. Teknik jumputan tradisional pada pinggiran rompi menambah sentuhan lokal yang kuat, sehingga tampilan tidak sekadar mengadopsi gaya Barat, melainkan menjadi kolaborasi kreatif yang menghubungkan dua dunia.
- Potongan tanpa lengan: Mengikuti standar waistcoat Regency, memberikan siluet rapi.
- Warna krem dan biru: Simbol kebersihan, kedamaian, dan harapan.
- Bordir tumbuhan: Doa untuk kehidupan baru yang tumbuh subur.
- Jumputan tradisional: Menjaga akar budaya Jawa.
Kolaborasi antara Didiet Maulana dan fashion stylist Ivan Teguh Santoso memperkaya narasi visual rompi El. Ivan menekankan pentingnya keseimbangan antara elemen historis dan konteks kontemporer, memastikan bahwa pakaian tidak mengaburkan makna ritual. “Kami ingin menampilkan seorang gentleman modern yang tetap berakar pada tradisi,” ujar Ivan dalam wawancara.
Dalam sejarah busana Inggris, waistcoat pada masa Regency awalnya berfungsi sebagai pakaian dalam (undergarment) sebelum lapisan luar yang lebih tebal. Namun, pada acara siraman El, rompi menjadi fokus utama, menandakan pergeseran makna dari sekadar lapisan fungsional menjadi simbol identitas dan kesiapan spiritual.
Penggabungan unsur Kerajaan Inggris dalam ritual adat Jawa menciptakan fenomena budaya yang menarik. Penampilan tersebut tidak hanya menambah estetika visual, tetapi juga memperluas wacana tentang bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan pengaruh global tanpa kehilangan esensinya. Hal ini memberi inspirasi bagi desainer muda lain untuk mengeksplorasi sinergi lintas budaya dalam konteks perayaan adat.
Reaksi publik pun menggemakan apresiasi terhadap kreativitas ini. Banyak netizen memuji keberanian Didiet Maulana dalam mengangkat elemen internasional ke dalam prosesi siraman, sekaligus menyoroti bagaimana rompi El menambah kedalaman emosional acara. Beberapa menganggapnya sebagai langkah progresif yang membuka pintu bagi inovasi dalam busana adat, sementara yang lain menekankan pentingnya menjaga kesucian ritual.
Secara keseluruhan, rompi El bukan sekadar fashion statement; ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara lokal dan global. Dengan memadukan gaya Regency Inggris dan adat Jawa, rompi ini menyampaikan pesan tentang kedewasaan, tanggung jawab, dan harapan akan masa depan yang harmonis bagi pasangan yang baru saja memulai lembaran kehidupan baru.
Keberhasilan pemilihan pakaian ini menggarisbawahi peran desainer dalam menginterpretasikan nilai budaya melalui kain. Rompi El menjadi bukti bahwa kreativitas dapat melintasi batas geografis, sekaligus menghormati tradisi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa.
Dengan demikian, rompi El tidak hanya mempercantik tampilan calon mempelai, tetapi juga menegaskan pentingnya dialog budaya yang dinamis dalam setiap perayaan adat, menjadikan momen siraman menjadi lebih bermakna dan berkesan bagi semua yang menyaksikannya.
