PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 25 April 2026 | Film Songko resmi diputar di seluruh jaringan bioskop Indonesia sejak 23 April 2026, mempersembahkan kisah horor yang berakar kuat pada mitos lokal Minahasa. Disutradarai oleh Gerald Mamahit, yang sebelumnya menorehkan kesuksesan dengan KKN di Desa Penari, film ini mengusung konsep “hyperlocal storytelling” yang menekankan keaslian budaya dan geografi wilayah pegunungan di kaki Gunung Lokon.
Alur cerita dimulai dengan suasana tenang di sebuah desa terpencil pada akhir 1980-an. Penduduknya hidup bersahaja, namun ketenangan itu terganggu ketika serangkaian kematian misterius menimpa para gadis remaja. Setiap korban ditemukan dalam kondisi mengerikan: kehilangan hampir seluruh darah, seolah-olah menjadi korban makhluk penghisap darah. Warga desa segera menuding keberadaan sosok gaib berjubah hitam yang dikenal sebagai Songko.
Songko digambarkan sebagai entitas yang menakutkan, berpenampilan menyeramkan dengan jubah hitam pekat. Mitos mengenai makhluk ini sudah lama beredar di antara warga Minahasa, namun film ini memperlihatkan secara visual bagaimana teror tersebut bisa menggerogoti kepercayaan dan solidaritas komunitas. Salah satu tokoh sentral, Helsye (diperankan oleh Annette Edoarda), seorang ibu tiri Mikha, dituduh memanggil Songko untuk melancarkan aksi kejamnya. Tuduhan ini memicu konflik internal, memperparah paranoia, dan menumbuhkan sikap hakim jalanan di antara penduduk.
Keluarga Mikha akhirnya dipaksa mengungsi setelah warga menuding mereka sebagai pembawa malapetaka. Namun, pengusiran tidak menghentikan teror. Malahan, Songko semakin agresif, menebar kematian di luar batas desa, menimbulkan rasa takut yang meluas ke wilayah sekitarnya. Penggambaran visual efek khusus yang realistis memperkuat atmosfer mencekam, menjadikan penonton merasakan ketegangan setiap kali layar menampilkan sosok berjubah hitam melintas di antara pepohonan gelap.
Dalam proses produksi, tim film berupaya menelusuri sumber legenda secara mendalam, melakukan wawancara dengan sesepuh desa, serta mempelajari tradisi lisan Minahasa. Hasilnya, narasi yang ditampilkan tidak sekadar hiburan semata, melainkan juga sarana edukasi budaya. Pendekatan hyperlocal storytelling ini berhasil menghubungkan penonton urban dengan nilai-nilai kearifan lokal, sekaligus menumbuhkan rasa penasaran terhadap mitos yang belum banyak terekspos dalam industri perfilman nasional.
Penampilan para pemain utama mendapat pujian. Annette Edoarda menjiwai peran Helsye dengan intensitas yang menonjol, memperlihatkan dilema moral antara melindungi anak tiri dan menanggung beban tuduhan. Sementara Mikha, diperankan oleh aktor muda lokal, berhasil mengekspresikan kepanikan sekaligus keberanian dalam menghadapi teror yang tak terlihat.
Film ini juga menampilkan lanskap alam Minahasa yang menakjubkan. Pengambilan gambar di sekitar Gunung Lokon menambah kedalaman visual, memperlihatkan kontras antara keindahan alam dan kengerian legenda yang menghantui. Suara angin, gemerisik dedaunan, dan teriakan samar menjadi elemen audio yang meningkatkan intensitas horor tanpa mengandalkan jump scare berlebihan.
Secara komersial, Film Songko mencatat penjualan tiket yang kuat pada minggu pertama, menandakan minat penonton terhadap genre horor yang mengangkat cerita lokal. Kritikus menilai bahwa keberhasilan film ini tidak hanya terletak pada kualitas produksi, melainkan pada keberanian mengangkat tema yang jarang dijelajahi dalam sinema Indonesia.
Kesimpulannya, Film Songko bukan sekadar film horor biasa. Ia berhasil menyajikan perpaduan antara ketegangan supernatural dan eksplorasi budaya, menjadikan penonton tidak hanya terhibur tetapi juga teredukasi tentang warisan mitologi Minahasa. Dengan penggarapan yang matang, akting kuat, serta visual yang memukau, Film Songko layak menjadi salah satu tontonan wajib bagi pecinta genre horor dan penikmat cerita lokal di tahun 2026.
