PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 23 April 2026 | Seong Hui Ju, tokoh utama dalam drama Disney+ “Perfect Crown“, kembali menjadi sorotan publik setelah penampilannya mengenakan baju merah pada episode perdana. Warna yang biasanya diasosiasikan dengan keberanian dan kemewahan tersebut malah menimbulkan gelombang kritik, spekulasi, dan perdebatan di kalangan penonton serta media.
Menurut laporan resmi yang dikeluarkan oleh Sekretariat Kerajaan, penampilan berwarna merah itu muncul bersamaan dengan pengakuan pertama istana mengenai hubungan pribadi antara Pangeran Agung I An dan Hui Ju. Pengakuan itu sendiri merupakan langkah berani, mengingat tradisi istana biasanya menahan diri sampai ada pembicaraan resmi mengenai pertunangan atau pernikahan. Namun, pernyataan tersebut tidak menyebutkan rencana pernikahan, melainkan hanya mengonfirmasi bahwa keduanya berada dalam tahap awal pacaran.
Reaksi Ibu Suri, istri senior istana, sangat keras. Ia menyatakan keprihatinan bahwa publikasi hubungan tersebut sekaligus penampilan baju merah Hui Ju dapat meningkatkan status sosial sang artis secara drastis, mengaburkan batas antara rakyat jelata dan keluarga kerajaan. Ibu Suri menilai bahwa penampilan berwarna mencolok tersebut sengaja dipilih untuk menonjolkan diri Hui Ju di depan publik, menambah tekanan pada institusi monarki.
Hui Ju sendiri tidak puas dengan pernyataan resmi sekadar mengakui hubungan pribadi. Dalam sebuah wawancara singkat dengan tim produksi, ia menuntut konfirmasi yang lebih konkret, yakni rencana pernikahan dengan I An. Hui Ju berargumen bahwa semakin cepat pernikahan dilangsungkan, semakin cepat pula ia dapat mengatasi status sebagai “anak haram” dalam keluarga kerajaan, sekaligus menghindari proses panjang yang biasanya mengikat para anggota kerajaan.
Kontroversi baju merah juga dipicu oleh latar belakang karakter Hui Ju dalam drama. Sejak kecil, ia ditelantarkan oleh ibu kandungnya dan dibesarkan dalam lingkungan yang menilai dirinya sebagai anak haram dari konglomerat Castle Group. Pengalaman pahit itu membentuk pribadi yang keras, mandiri, dan tak segan melawan ketidakadilan. Dalam cerita, Hui Ju sering menolak diperlakukan secara tidak adil, bahkan mengadakan aksi-aksi perlawanan yang menimbulkan kegaduhan, seperti menonton pertandingan baseball bersama I An demi menegaskan kemesraan mereka di depan mata publik.
Penggunaan baju merah pada adegan pertama menimbulkan interpretasi simbolis. Warna merah melambangkan keberanian, kemarahan, serta kemewahan. Bagi penonton, hal ini memperkuat citra Hui Ju sebagai sosok yang tidak takut menantang norma, sekaligus menyoroti konflik internal antara keinginan pribadi dan tekanan sosial. Media sosial pun dipenuhi meme, komentar, hingga analisis yang mengaitkan warna tersebut dengan strategi politik istana untuk menarik simpati publik.
Seiring berjalannya episode, tekanan publik semakin memuncak. Banyak netizen menuntut istana memberikan kejelasan mengenai status hubungan, sementara kelompok konservatif mengkritik langkah istana yang dianggap melanggar tradisi. Di sisi lain, pendukung Hui Ju memuji keberaniannya mengangkat isu ketidaksetaraan kelas dan menantang stereotip perempuan dalam lingkungan kerajaan.
Dalam upaya meredakan ketegangan, Sekretariat Kerajaan mengadakan rapat darurat. Keputusan yang diambil adalah mempertegas kembali bahwa hubungan tersebut berada pada fase awal, namun tetap terbuka untuk diskusi lebih lanjut mengenai masa depan pasangan tersebut. Sementara itu, Hui Ju terus menampilkan aksi-aksi yang menonjolkan kedekatannya dengan I An, termasuk mengajak sang pangeran menonton pertandingan baseball, sebagai sinyal bahwa ia tidak akan puas hanya dengan pernyataan resmi semata.
Kontroversi baju merah Hui Ju menjadi cermin dinamika antara tradisi monarki, hak individu, dan pengaruh media modern. Seiring drama “Perfect Crown” terus berlanjut, publik menantikan apakah permintaan Hui Ju akan terjawab, apakah pernikahan akan terjadi, dan bagaimana dampaknya terhadap struktur sosial istana.
Kesimpulannya, baju merah Hui Ju bukan sekadar pilihan fashion, melainkan simbol perlawanan, aspirasi, dan ketegangan politik yang memicu perdebatan luas di masyarakat.
