WHO Ungkap Penurunan hepatitis global, Namun Akses Pengobatan Masih Jadi Tantangan Besar

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 03 Mei 2026 | World Health Organization (WHO) merilis laporan terbarunya pada World Hepatitis Summit yang menegaskan adanya penurunan signifikan pada hepatitis global. Laporan tersebut menyoroti penurunan angka kematian dan infeksi baru, namun menekankan bahwa kesenjangan dalam deteksi serta akses pengobatan masih menjadi penghalang utama untuk mencapai target eliminasi pada 2030.

Menurut data WHO, pada tahun 2024 hepatitis B dan C tetap menjadi penyebab utama kematian terkait hepatitis di dunia, menyumbang total sekitar 1,34 juta kematian. Setiap harinya tercatat lebih dari 4.900 kasus penularan baru. Meskipun demikian, sejak 2015 terjadi penurunan kasus infeksi hepatitis B baru sebesar 32 persen dan kematian akibat hepatitis C menurun sekitar 12 persen secara global.

Baca juga:

Penurunan paling menonjol terlihat pada kelompok anak-anak. Prevalensi hepatitis B pada anak di bawah lima tahun kini turun menjadi 0,6 persen, dan 85 negara telah mencapai atau melampaui target WHO untuk 2030. Namun, WHO menilai laju penanganan masih belum cukup untuk mencapai tujuan eliminasi hepatitis pada 2030. Banyak negara masih menghadapi kendala dalam deteksi, pengobatan, dan akses layanan kesehatan.

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa eliminasi hepatitis bukanlah mimpi, namun memerlukan komitmen politik yang berkelanjutan serta pendanaan domestik yang kuat. “Di seluruh dunia, negara‑negara menunjukkan bahwa eliminasi hepatitis dapat dicapai dengan dukungan kebijakan yang konsisten,” ujarnya pada 29 April 2026.

WHO mencatat bahwa sekitar 287 juta orang hidup dengan hepatitis B atau C kronis pada 2024. Dari jumlah tersebut, hanya kurang dari 5 persen pasien hepatitis B yang menerima pengobatan, sementara untuk hepatitis C hanya sekitar 20 persen yang berhasil mendapatkan terapi modern yang tersedia sejak 2015. Akibatnya, angka kematian tetap tinggi; diperkirakan 1,1 juta orang meninggal akibat hepatitis B dan 240 ribu orang akibat hepatitis C pada tahun yang sama, mayoritas disebabkan komplikasi sirosis dan kanker hati.

Baca juga:

Beberapa negara telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Mesir, Rwanda, dan Inggris disebut berhasil menekan penyebaran penyakit ini melalui kebijakan vaksinasi massal, program skrining, serta peningkatan akses pengobatan. Keberhasilan mereka menjadi contoh bagi negara lain yang masih berjuang mengatasi tantangan struktural.

WHO mengidentifikasi langkah‑langkah kunci yang perlu dipercepat:

  • Memperluas cakupan vaksinasi hepatitis B pada bayi dan anak-anak.
  • Meningkatkan akses pengobatan, khususnya terapi antiretroviral untuk hepatitis B dan regimen langsung-aksi (DAA) untuk hepatitis C.
  • Memperkuat layanan pencegahan penularan di fasilitas kesehatan, termasuk penggunaan jarum suntik yang aman.
  • Menerapkan program harm reduction bagi kelompok berisiko tinggi, seperti pengguna narkoba suntik.

Berikut rangkuman data utama dalam bentuk tabel:

Baca juga:
Parameter 2024 Perubahan sejak 2015
Kasus infeksi baru per hari >4.900
Kematian akibat hepatitis B 1,1 juta
Kematian akibat hepatitis C 240 ribu -12%
Prevalensi pada anak <5 tahun 0,6% -32%
Pasien hepatitis B yang diobati <5%
Pasien hepatitis C yang diobati ≈20%

Secara keseluruhan, laporan WHO menegaskan bahwa meskipun tren penurunan hepatitis global memberikan harapan, tantangan dalam akses pengobatan, deteksi dini, dan dukungan kebijakan tetap harus diatasi. Tanpa komitmen politik yang kuat dan pendanaan yang memadai, target eliminasi hepatitis pada 2030 dapat terlewatkan.

Upaya kolaboratif antara pemerintah, organisasi internasional, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk menutup kesenjangan layanan kesehatan, mengurangi stigma, serta mempercepat penyediaan terapi yang terjangkau bagi jutaan orang yang masih hidup dengan hepatitis kronis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *