PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 15 April 2026 | Jakarta, 15 April 2026 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk memberantas aksi premanisme yang kembali mengemuka di kawasan Pasar Tanah Abang. Insiden paling akhir melibatkan pemalakan terhadap sopir bajaj yang dipaksa membayar setoran hingga Rp100.000 setiap hari, serta penyerangan terhadap pedagang makanan kaki lima. Pramono menegaskan bahwa semua pelaku sudah ditangkap dan aparat akan terus memberikan dukungan penuh untuk mencegah terulangnya praktik serupa.
Menurut keterangan yang disampaikan di Kantor Unit Pengelola Penyelidikan, Pengujian, dan Pengukuran Bina Marga Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Jakarta Timur, pada Selasa 14 April 2026, seluruh oknum yang terlibat dalam pemalakan kepada pedagang dan sopir bajaj telah diamankan oleh kepolisian. “Kemarin yang melakukan pemalakan baik itu kepada pedagang maupun apa, bajaj, kan sudah ditangkap semua,” ujar Pramono. Ia menambahkan bahwa pemerintah provinsi memberikan dukungan sepenuhnya agar kejadian serupa tidak terulang.
Kasus ini mencuat setelah sebuah video viral di platform TikTok menampilkan seorang sopir bajaj yang mengaku harus menyerahkan uang sebesar Rp100.000 per hari kepada preman setempat. Video tersebut diunggah oleh akun @Itsremiaa pada Jumat, 10 April 2026, dan segera memicu kemarahan publik. Selain sopir bajaj, tiga orang preman yang memalak pedagang bubur dan memecahkan mangkuk dagangan juga ditangkap dan kini berada di Mapolsek Tanah Abang.
Pramono menegaskan bahwa sebagai kepala daerah, ia memberikan lampu hijau kepada aparat keamanan untuk menyapu bersih jaringan preman di seluruh wilayah Jakarta. “Saya sebagai Gubernur Jakarta termasuk memberikan support untuk mengambil tindakan tegas premanisme kepada siapapun di Jakarta ini,” tegasnya. Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan janji bahwa Dinas Bina Marga dan Satpol PP akan meningkatkan pengawasan di area-area rawan, khususnya titik-titik strategis seperti area parkir dan jalur masuk pasar.
Para pengamat menilai bahwa tindakan reaktif yang hanya muncul setelah insiden menjadi viral belum cukup untuk memutuskan akar permasalahan. Premanisme di Tanah Abang telah lama menjadi bagian dari ekonomi informal, dimana kelompok preman memungut uang perlindungan dari pedagang kaki lima, sopir, dan pemilik kios. Ombudsman RI pada 2019 pernah melaporkan bahwa sistem ini beroperasi seperti jaringan kontrol wilayah yang memanfaatkan celah regulasi, terutama saat terjadi relokasi pedagang atau perubahan kebijakan tata ruang.
- Premanisme di Tanah Abang melibatkan pungutan liar terhadap pedagang, sopir, dan pemilik kios.
- Kasus terbaru mencatat setoran Rp100.000 per hari untuk sopir bajaj.
- Pihak kepolisian menangkap tiga pelaku preman pada 9 April 2026.
- Gubernur Pramono Anung berjanji dukungan penuh kepada aparat.
Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu (PSI), mengkritik respons aparat yang cenderung menunggu viralitas sebelum bertindak. “Jangan sampai juga, Pemprov DKI Jakarta baru bertindak ketika ada kejadian‑kejadian yang viral,” ujarnya dalam rapat kerja DPD pada 13 April 2026. Ia menekankan perlunya sistem pengawasan proaktif yang melibatkan Satpol PP, Bina Marga, serta unit-unit kepolisian khusus wilayah perdagangan.
Di sisi lain, pedagang dan pengemudi yang menjadi korban mengaku enggan melawan karena takut akan balasan kekerasan. Banyak yang memilih menurunkan aktivitas atau berpindah lokasi meski hal itu mengurangi pendapatan mereka. Kondisi ini memperparah ketergantungan pada ekonomi bayangan yang menjadi sumber utama pendapatan preman.
Gubernur Pramono menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa penindakan terhadap premanisme tidak hanya bersifat represif, melainkan harus diimbangi dengan pemberdayaan ekonomi informal. “Kami akan bekerja sama dengan dinas terkait untuk memberikan alternatif pendapatan yang sah, memperkuat regulasi pasar, serta meningkatkan keamanan lingkungan,” katanya.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Tanah Abang dapat kembali menjadi pusat perdagangan yang aman dan nyaman, sekaligus menurunkan tingkat kriminalitas yang mengancam citra Jakarta sebagai kota global.
