PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 06 Mei 2026 | Universitas Indonesia (UI) kembali menjadi sorotan publik setelah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI secara tegas menolak rencana pembangunan Sistem Pengelolaan Penggunaan Gedung (SPPG) di kampus utama. Penolakan ini muncul berbarengan dengan pernyataan Rektor UI, Prof. Heri Hermansyah, yang menyoroti wacana “Satu Kampus Satu Dapur” serta menekankan perlunya kajian mendalam sebelum implementasi kebijakan baru.
Rencana SPPG, yang awalnya dipaparkan sebagai upaya optimalisasi aset kampus dan peningkatan fasilitas bagi sivitas akademika, melibatkan pembangunan gedung multifungsi yang diharapkan dapat menampung ruang belajar, laboratorium, serta area komunal. Namun, BEM UI menilai bahwa proses perencanaan belum melibatkan mahasiswa secara memadai, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan dampak negatif terhadap lingkungan kampus dan aksesibilitas ruang bagi mahasiswa.
Dalam pertemuan darurat yang diadakan di Balairung Rektorat pada Senin (10/5), Ketua BEM UI, Dinda Pratama, menyampaikan tiga tuntutan utama: (1) penghentian sementara proyek SPPG hingga dilakukan studi kelayakan yang melibatkan semua pemangku kepentingan, (2) transparansi penuh mengenai alokasi dana dan sumber pembiayaan, serta (3) jaminan bahwa ruang yang dibangun akan bersifat inklusif dan ramah lingkungan. Dinda menegaskan, “Mahasiswa bukan sekadar pengguna, melainkan pemilik hak suara dalam menentukan bentuk fasilitas kampus yang akan mereka gunakan sehari-hari.”
- Penundaan proyek SPPG untuk studi kelayakan
- Pengungkapan detail sumber dana
- Keterlibatan mahasiswa dalam perancangan ruang
Rektor UI, Prof. Heri Hermansyah, menanggapi aksi BEM dengan mengakui pentingnya dialog terbuka. Ia menambahkan bahwa inisiatif “Satu Kampus Satu Dapur” bertujuan menyediakan layanan makanan terintegrasi yang dapat meningkatkan efisiensi operasional kampus, namun tidak boleh mengorbankan kebutuhan dasar mahasiswa lainnya. “Kami sedang mengkaji secara mendalam dampak kebijakan ini, termasuk implikasi sosial, ekonomi, dan lingkungan,” ujar Heri dalam pernyataannya.
Sementara itu, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) yang tengah bekerja sama dengan UI dalam pengembangan hunian mahasiswa juga menekankan pentingnya melibatkan mahasiswa dalam proses perencanaan. Menteri PKP, Maruarar Sirait, mengingatkan bahwa keberhasilan proyek asrama baru dan rusunawa bergantung pada partisipasi aktif mahasiswa, agar fasilitas yang dibangun benar‑benar mencerminkan kebutuhan mereka.
Kolaborasi antara UI dan PKP telah menghasilkan rencana ambisius untuk meningkatkan kualitas hunian mahasiswa, dengan target menjadikan asrama UI sebagai tempat tinggal terbaik di Asia Tenggara pada tahun 2030. Namun, BEM UI mengingatkan bahwa fokus utama harus tetap pada kesejahteraan mahasiswa, bukan sekadar pencapaian prestise. “Jika proyek SPPG mengalihkan sumber daya dari pembangunan asrama yang sudah direncanakan, hal itu dapat menunda realisasi tujuan jangka panjang kami,” kata Dinda.
Reaksi publik di media sosial pun beragam. Sebagian mahasiswa mendukung aksi BEM, menilai bahwa penolakan tersebut menunjukkan kepedulian terhadap transparansi dan keberlanjutan kampus. Di sisi lain, sebagian dosen dan alumni mengkhawatirkan potensi stagnasi pembangunan infrastruktur yang dapat memperlambat inovasi akademik.
Menanggapi situasi ini, UI berjanji akan membentuk forum dialog permanen yang melibatkan perwakilan mahasiswa, dosen, dan pihak manajemen. Forum ini diharapkan menjadi wadah untuk meninjau setiap rencana pembangunan, termasuk SPPG, serta memastikan bahwa setiap keputusan didasarkan pada data yang solid dan partisipasi luas.
Ke depan, BEM UI berencana menggelar aksi damai di depan Gedung Rektorat pada akhir pekan ini untuk menuntut kejelasan lebih lanjut. Sementara itu, Rektor UI mengundang semua pihak untuk berpartisipasi dalam serangkaian lokakarya yang akan diadakan pada bulan Juni, guna mengevaluasi dampak kebijakan “Satu Kampus Satu Dapur” serta proyek SPPG. Dialog konstruktif diharapkan dapat menghasilkan solusi yang seimbang antara kebutuhan infrastruktur dan aspirasi mahasiswa.
Situasi ini menegaskan kembali pentingnya sinergi antara kebijakan institusional dan aspirasi mahasiswa dalam mengelola aset kampus. Dengan keterbukaan, transparansi, dan partisipasi aktif, UI berpotensi menjadi contoh universitas yang mengutamakan kesejahteraan sivitas akademika sambil tetap berinovasi dalam pengelolaan fasilitas.
