Jejak KAA 1955 di Hotel Savoy Homann: Kamar Soekarno hingga Zhou Enlai Masih Bisa Dihuni

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 20 April 2026 | Bandung kembali menjadi sorotan dunia ketika Hotel Savoy Homann menggelar peringatan ke-71 Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Acara utama yang berlangsung pada 19 April 2026, bertajuk “Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia”, tidak hanya menampilkan dialog kebudayaan dan peluncuran buku visual, tetapi juga mengungkap fakta menarik: kamar-kamar bersejarah yang pernah dihuni Soekarno, Zhou Enlai, serta delegasi lainnya masih dapat ditempati hingga kini.

Hotel Savoy Homann, yang dibangun pada era kolonial Belanda, menjadi saksi bisu pertemuan para pemimpin dunia pada Agustus 1955. Pada saat itu, Presiden Soekarno menempati Suite 101, sedangkan Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai memilih Suite 103. Kedua kamar tersebut kini telah dipugar oleh pihak hotel dengan mengedepankan prinsip pelestarian arsitektur asli, sehingga pengunjung dapat merasakan atmosfer masa lalu tanpa mengorbankan kenyamanan modern.

Perayaan 71 tahun KAA dipimpin oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, yang menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat Dasasila Bandung dalam menghadapi tantangan global. “Jika kita ingin membangun perdamaian yang berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Fadli Zon menambahkan bahwa Indonesia tetap berkomitmen pada prinsip non-blok, memperkuat kerja sama internasional, dan mengusung nilai-nilai Piagam PBB.

Acara tersebut juga menampilkan pemaparan akademis oleh Vijay Prashad, sejarawan asal India, dalam sebuah public lecture yang bertajuk “The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis”. Prashad menegaskan bahwa KAA 1955 bukan sekadar nostalgia, melainkan agenda nyata untuk menuntut kedaulatan ekonomi dan sumber daya di negara-negara Global South. “Kita tidak boleh membiarkan kekayaan alam mengalir ke luar negeri tanpa manfaat bagi rakyat,” tegasnya.

Dialog kebudayaan yang dipandu oleh Staf Ahli Menteri Kebudayaan Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri mempertemukan Duta Besar Mesir untuk Indonesia Yasser Hassan Farag Elshemy, anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa, serta akademisi Anton Aliabbas. Diskusi menyoroti nilai historis KAA serta cara mengintegrasikannya ke dalam kebijakan budaya dan diplomasi modern. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengusulkan kawasan Simpang Lima hingga Jalan Asia-Afrika sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, menegaskan pentingnya melestarikan jejak visual kota.

Pengunjung yang menelusuri Suite 101 dapat melihat meja kerja Soekarno yang masih dipertahankan, lengkap dengan lampu meja antik dan peta dunia berbingkai kayu. Sementara Suite 103 menampilkan kursi kulit yang pernah dipakai Zhou Enlai, serta koleksi buku-buku diplomasi era 1950-an. Kedua kamar kini disewakan sebagai ruang pertemuan eksklusif bagi delegasi internasional, menjadikan mereka simbol hidup dari nilai solidaritas yang diusung KAA.

Selain menampilkan kamar bersejarah, Hotel Savoy Homann juga memamerkan album “Konferensi Asia Afrika dalam Gambar”, yang mendokumentasikan setiap momen penting melalui foto-foto berwarna dan hitam-putih. Pameran ini menampilkan gambar para peserta, sesi sidang, serta pertunjukan seni budaya yang mengiringi konferensi. Pengunjung dapat merasakan kembali suasana semarak tahun 1955 melalui tata letak pameran yang dirancang kuratorial.

Upaya pelestarian tidak berhenti pada bangunan. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kebudayaan, berencana membangun program edukasi digital yang menampilkan virtual tour kamar Soekarno dan Zhou Enlai, memungkinkan generasi muda menjelajahi sejarah tanpa harus berada di lokasi fisik. Program ini diharapkan dapat memperkuat identitas nasional serta menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap peran Bandung dalam diplomasi dunia.

Kesimpulannya, Hotel Savoy Homann tidak hanya menjadi latar belakang peringatan KAA, melainkan juga menjadi jembatan waktu yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Keberadaan kamar Soekarno dan Zhou Enlai yang masih dapat dihuni menegaskan komitmen Indonesia dalam melestarikan warisan sejarah sekaligus menggunakannya sebagai alat diplomasi budaya. Dengan dukungan dari tokoh politik, akademisi, serta masyarakat internasional, semangat Bandung Spirit diharapkan terus menginspirasi upaya perdamaian dan solidaritas di era ketidakpastian global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *