Santi Yusuf: 20 Tahun Bertahan di Dunia Peternakan Ayam Petelur Gorontalo

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 29 April 2026 | Santi Yusuf, seorang wanita berusia 45 tahun dari Kabupaten Gorontalo, telah mengukir kisah inspiratif sebagai peternak ayam petelur selama dua dekade. Dimulai pada tahun 2004, ia memulai usaha kecil dengan hanya lima ekor ayam petelur di halaman belakang rumahnya, sambil mengurus tiga anak dan pekerjaan rumah tangga. Keberanian Santi untuk memasuki sektor pertanian yang didominasi laki‑laki menjadi titik awal perubahan ekonomi keluarganya.

Selama 20 tahun perjalanan, Santi menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari fluktuasi harga pakan, wabah penyakit unggas, hingga krisis ekonomi nasional dan pandemi COVID‑19 yang mengguncang pasar telur. Meski demikian, ia berhasil mempertahankan produksi dengan menerapkan strategi manajemen yang cermat, termasuk diversifikasi pakan organik dari limbah pertanian lokal dan penerapan biosekuriti ketat pada kandang.

Baca juga:
  • Fluktuasi harga pakan: Santi mengurangi ketergantungan pada pakan komersial dengan memproduksi pakan fermentasi dari jagung lokal.
  • Wabah penyakit: Ia mengadopsi program vaksinasi rutin dan sanitasi harian, serta memisahkan kelompok ayam yang rentan.
  • Pandemi COVID‑19: Penurunan permintaan restoran diimbangi dengan peningkatan penjualan langsung ke konsumen melalui jaringan tetangga dan pasar daring.

Kisah Santi tidak lepas dari dukungan komunitas. Sebagai anggota kelompok tani perempuan di desa, ia memanfaatkan pelatihan yang diselenggarakan pemerintah tentang usaha ternak skala mikro. Pengetahuan tentang teknik peternakan modern, manajemen keuangan, dan pemasaran digital memungkinkan Santi mengoptimalkan produksi dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Keberhasilan Santi juga selaras dengan tren pemberdayaan perempuan melalui usaha ternak di pedesaan. Ide-ide jualan ternak yang cocok untuk ibu‑ibu desa, seperti ayam petelur, puyuh, dan ikan hias, menawarkan modal minim namun hasil maksimal. Dalam konteks ini, Santi menjadi contoh nyata bagaimana peternakan ayam petelur dapat menjadi sumber pendapatan stabil, sekaligus memperkuat peran perempuan dalam perekonomian lokal.

Baca juga:

Selama dua dekade, produksi telur Santi meningkat dari puluhan menjadi ratusan butir per hari. Pendapatan dari penjualan telur kini menyokong kebutuhan pendidikan anak‑anaknya dan memberikan cadangan dana untuk investasi pada peralatan kandang yang lebih modern, seperti sistem ventilasi otomatis dan lampu LED untuk meningkatkan produksi telur.

Selain aspek ekonomi, Santi menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Kotoran ayam dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk kebun sayur keluarga, mengurangi kebutuhan pupuk kimia dan mendukung pertanian organik di sekitar rumahnya. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi biaya produksi, tetapi juga meningkatkan kesadaran lingkungan di antara tetangga.

Baca juga:

Kisah Santi Yusuf menjadi bukti bahwa ketekunan, inovasi, dan dukungan komunitas dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Ia berharap semakin banyak perempuan di Gorontalo dan Indonesia pada umumnya yang terinspirasi untuk memulai usaha ternak, menjadikan sektor pertanian sebagai motor penggerak kesejahteraan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *