PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 15 April 2026 | Barcelona kembali berada di bawah bayang-bayang kekecewaan setelah tersingkir di perempat final Liga Champions melawan rival domestik mereka, Atletico Madrid. Dalam dua leg pertandingan yang sarat kontroversi, Blaugrana tidak hanya kalah secara agregat 3-2, tetapi juga mengeluhkan keputusan wasit yang dianggap tidak adil.
Pertandingan pertama berakhir dengan kemenangan 2-0 untuk Atletico di Wanda Metropolitano. Barcelona harus menelan hukuman keras ketika gelandang asal Kroasia, Pau Cubarsi, ditunjuk keluar setelah wasit Istvan Kovacs mengubah kartu kuning menjadi merah setelah meninjau insiden di monitor tepi lapangan. Keputusan tersebut menambah tekanan pada skuad yang sudah kesulitan menembus gawang lawan.
Pada leg kedua di Camp Nou, Barcelona berhasil memutar kembali keadaan dengan kemenangan 2-1, namun usaha mereka tidak cukup untuk menutup defisit dua gol. Kembali, kontroversi muncul ketika bek muda Eric Garcia menerima kartu merah di menit 79 setelah wasit Clement Turpin memerintahkan tinjauan VAR dan mengubah pelanggaran menjadi penghalang peluang gol (DOGSO). Dengan demikian, Barcelona bermain dengan sepuluh pemain di sisa waktu pertandingan.
Raphinha, penyerang asal Brasil yang absen karena cedera pada kedua leg, mengeluarkan pernyataan keras sesudah pertandingan berakhir. “Bagi saya, pertandingan ini adalah perampokan, tidak hanya kali ini tetapi juga yang pertama. Keputusan wasit benar‑benar buruk, mereka tampak takut kalau Barcelona kembali menang,” ujarnya dalam konferensi pers. Raphinha menyoroti bahwa Atletico tidak menerima satu kartu kuning pun, sementara Barcelona harus menelan dua kartu merah serta satu kartu kuning.
Kontroversi lain melibatkan tindakan penjaga gawang Marc Pubill dari Atletico yang secara tak sengaja menangkap bola dengan tangannya di dalam area penalti pada leg pertama. Meskipun VAR menilai insiden tersebut, wasit dan asistennya memutuskan untuk melanjutkan permainan, menambah rasa frustrasi pihak Barcelona yang menilai keputusan itu sebagai “kekurangan serius dalam intervensi VAR”. UEFA kemudian menolak protes resmi Barcelona, menyatakan bahwa keluhan tersebut tidak dapat diterima.
Meski terpuruk, ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari duel ini. Pertama, ketahanan mental tim harus ditingkatkan ketika bermain dengan pemain kurang. Kedua, pentingnya disiplin dalam menghindari pelanggaran yang dapat berujung pada kartu merah, terutama di pertandingan berisiko tinggi. Ketiga, klub harus menilai kembali kebijakan mereka terhadap penggunaan VAR dan mengajukan feedback yang konstruktif kepada otoritas kompetisi.
Sementara itu, Barcelona berusaha menatap masa depan dengan menekankan pengembangan talenta muda. Pelatih Xavi Hernandez menekankan bahwa kegagalan ini menjadi peluang bagi pemain muda untuk mendapatkan pengalaman berharga di panggung Eropa. “Kami akan belajar dari setiap kesalahan dan memberikan ruang bagi generasi berikutnya untuk berkembang,” kata Xavi dalam sesi wawancara.
Dalam konteks sejarah Champions League, Barcelona kini bergabung dengan daftar klub yang pernah mengalami exit kontroversial pada fase perempat final. Sejak rebranding kompetisi pada musim 1992/93, total 31 tim berhasil menembus semifinal, dan kegagalan Barcelona menambah daftar panjang klub elit yang pernah terhenti di babak ini.
Penutup, insiden ini menegaskan betapa pentingnya keputusan teknis dan disiplin pemain dalam turnamen bergengsi. Barcelona harus bangkit kembali, memperbaiki kekurangan taktis, serta menyesuaikan strategi mereka dalam menghadapi tantangan di kompetisi domestik dan Eropa mendatang.
