PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 01 Mei 2026 | Babak pertama semifinal Liga Champions antara Arsenal dan Atletico Madrid berakhir dengan skor 1-1 yang sarat kontroversi. Pertandingan yang berlangsung di Wanda Metropolitano pada 30 April 2026 tidak hanya menampilkan gol balasan Julian Alvarez, tetapi juga menimbulkan polemik seputar keputusan penalti, intervensi VAR, dan kondisi lapangan yang dipertanyakan.
Detik-detik krusial terjadi pada menit ke-44 ketika Viktor Gyokeres mengeksekusi penalti untuk Atletico Madrid. Gol tersebut kemudian disamakan oleh Julian Alvarez menjelang akhir babak pertama. Namun, sorotan utama beralih ke insiden penalti kedua yang sempat diberikan kepada Arsenal. Eberechi Eze tampak terjatuh di dalam kotak penalti setelah kontak dengan bek Atletico, David Hancko. Wasit Danny Makkelie langsung mengangkat bendera dan menandai titik penalti, memicu kemarahan pelatih Arsenal, Mikel Arteta, serta pemain lawan.
Setelah review VAR, Makkelie memutuskan untuk menarik keputusan tersebut. Peninjauan melibatkan monitor pinggir lapangan dan proses yang memakan waktu, hingga wasit menonton rekaman sebanyak 13 kali sebelum mengubah pendiriannya. Keputusan ini menuai kritikan tajam dari Arteta yang mengaku “fuming” dalam konferensi pers pasca pertandingan. Mantan wasit Premier League, Mark Halsey, juga memberikan pendapatnya, menyatakan bahwa pelanggaran tersebut jelas dan seharusnya tetap menjadi penalti. “Ada kontak, memang clumsy, namun tidak ada kesalahan jelas yang mengharuskan VAR campur tangan,” ujar Halsey.
Reaksi Diego Simeone di sisi Atletico tak kalah keras. Simakannya yang berteriak kepada ofisial pertandingan dianggap oleh Halsey sebagai tindakan tidak pantas. Kritik Halsey meluas, menilai bahwa sikap Simeone dan kurangnya intervensi dari petugas keempat (fourth official) memperparah situasi.
Di samping kontroversi penalti, Arsenal juga menyoroti masalah kondisi lapangan. Staf klub melaporkan bahwa panjang rumput di Metropolitano melebihi batas maksimal 30 milimeter yang ditetapkan UEFA. Mereka bahkan merekam pengukuran rumput sebelum kickoff, menujukkan perbedaan yang signifikan. Selama jeda babak pertama, Atletico sempat melakukan penyiraman tambahan di area yang menjadi pertahanan Arsenal, menambah dugaan bahwa tim tuan rumah berupaya memperlambat tempo pertandingan.
Menurut regulasi UEFA, rumah tuan harus memastikan kondisi lapangan seragam dan tidak boleh melakukan penyiraman berlebih setelah 60 menit sebelum kickoff, kecuali ada persetujuan khusus. Jika diperlukan, wasit atau delegasi UEFA dapat memerintahkan pemotongan rumput atau penyesuaian penyiraman. Arsenal dikabarkan sedang mengumpulkan bukti untuk kemungkinan mengajukan komplain resmi kepada UEFA, meski belum ada pernyataan resmi tentang pengajuan tersebut.
Kontroversi ini menambah beban mental bagi Arsenal menjelang laga balik yang dijadwalkan di Emirates Stadium pada Selasa depan. Arteta harus menyiapkan timnya yang baru saja menjalani pertandingan melawan Fulham di Liga Inggris, sementara tekanan untuk memperbaiki performa di panggung Eropa semakin tinggi.
Para pemain kunci Arsenal, termasuk Declan Rice, menyatakan kekecewaan terhadap keputusan wasit dan menuduh potensi pengaruh suara kerumunan. Sementara itu, para analis sepakbola menilai bahwa keputusan VAR yang berulang-ulang dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap teknologi tersebut, terutama bila tidak ada “kesalahan jelas dan nyata” yang dapat dibuktikan.
Jika Arsenal berhasil mengamankan hasil positif di leg kedua, mereka akan melaju ke final Liga Champions, sebuah prestasi yang belum diraih sejak 2006. Namun, selain urusan taktik, klub harus siap menghadapi kemungkinan sanksi atau investigasi UEFA terkait dugaan pelanggaran regulasi pitch dan perilaku ofisial pertandingan.
Kesimpulannya, Arsenal vs Atletico Madrid tidak hanya menjadi pertarungan taktik di lapangan, tetapi juga arena perdebatan mengenai keadilan keputusan wasit, penggunaan VAR, dan kepatuhan terhadap standar UEFA. Hasil leg kedua akan menjadi penentu, baik bagi impian Arsenal menjuarai kompetisi bergengsi maupun bagi reputasi Atletico Madrid sebagai tuan rumah yang patut dipertanyakan.
