PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 03 Mei 2026 | Mirra Andreeva, pemain tenis muda berusia 19 tahun asal Rusia, harus menelan kepedihan setelah mengalami kekalahan 6-3, 7-5 di final Madrid Open melawan unggulan ke-19 Marta Kostyuk dari Ukraina. Pada akhir pertandingan, Andreeva terlihat terisak, meneteskan air mata ke handuk di bangku cadangan dan kembali menangis saat memberikan pidato runner‑up.
Dalam pidatonya, Andreeva mengakui bahwa ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak menangis, namun emosi tak dapat ia kendalikan. “Saya minta maaf, saya berjanji tidak akan menangis, maaf,” ujarnya sambil menutupi wajah dengan pelat runner‑up. Ia juga menolak menatap pelatihnya, Conchita Martínez, dan menahan diri untuk tidak berinteraksi langsung dengan tim, memilih menatap pelat sebagai perisai.
Meskipun kekecewaan terasa “seperti akhir dunia”, Andreeva berusaha menemukan sisi positif. “Hari ini memang hari yang sulit, tetapi saya pikir kami dapat mengambil banyak hal positif dari minggu ini,” kata Andreeva dalam wawancara singkat setelah pertandingan. Ia menekankan tekad untuk melanjutkan turnamen pada nomor ganda bersama rekan setimnya, Diana Shnaider.
Pasangan ganda Andreeva‑Shnaider berhasil melaju ke final ganda dan dijadwalkan bertarung melawan pasangan nomor dua dunia, Katerina Siniakova dan Taylor Townsend, pada pukul 13.00 waktu setempat. Keduanya telah mencatat prestasi gemilang, termasuk gelar ganda di Brisbane dan Miami pada tahun sebelumnya serta medali perak di Olimpiade 2024 dengan bendera Individu Netral.
Keberhasilan di ganda menjadi harapan bagi Andreeva untuk menutup minggu yang penuh emosi. “Kami akan berjuang untuk meraih gelar ketiga bersama tahun ini,” ujar Shnaider dalam konferensi pers. “Kami percaya bahwa pengalaman kami di turnamen sebelumnya dapat membantu kami mengatasi tekanan di lapangan.”
Sementara itu, Kostyuk, yang berhasil menaklukkan Andreeva, juga menolak berjabat tangan sebagai bentuk protes politik terkait konflik di Ukraina. Meskipun demikian, ia tetap memberikan aplaus kepada Andreeva atas perjuangan sang lawan. Kostyuk menyatakan, “Saya menghargai perjuangan Mirra dan timnya, meski kami berada di sisi yang berbeda dalam isu geopolitik.”
Turnamen Madrid Open, yang merupakan bagian dari seri WTA 1000, menjadi ajang penting bagi pemain muda untuk menguji kemampuan di permukaan tanah liat sebelum Grand Slam Prancis terbuka. Kemenangan Kostyuk di Madrid menjadi gelar WTA 1000 pertamanya, sedangkan bagi Andreeva, penampilan final menandai pencapaian penting meskipun berakhir dengan kekalahan.
Para analis menilai bahwa Andreeva masih dalam proses belajar mengelola tekanan mental. Insiden sebelumnya di Indian Wells, di mana ia melontarkan kata‑kata kasar kepada penonton, menunjukkan bahwa emosi yang tidak terkendali dapat memengaruhi performa. Pelatihnya, Martínez, berencana melakukan sesi mental coaching untuk membantu pemainnya mengatasi kegugupan di laga besar.
Berikut rangkuman statistik singkat pertandingan final:
- Skor: 6-3, 7-5 untuk Kostyuk.
- Jumlah ace Andreeva: 3.
- Break point yang diselamatkan Andreeva: 2 pada set kedua.
- Persentase servis pertama Andreeva: 68%.
Dengan jadwal pertandingan ganda yang hanya berjarak kurang dari 24 jam, Andreeva harus segera memulihkan kondisi fisik dan emosionalnya. Tim medis Madrid Open melaporkan bahwa tidak ada cedera serius pada Andreeva, namun ia membutuhkan istirahat dan dukungan mental.
Ke depan, Andreeva menargetkan penampilan kuat di turnamen tanah liat berikutnya, termasuk Roland Garros, di mana ia berharap dapat mengubah pengalaman pahit di Madrid menjadi pelajaran berharga.
Kesimpulannya, meski Mirra Andreeva harus menelan kekecewaan setelah kehilangan gelar tunggal di Madrid Open, ia tetap menunjukkan semangat juang yang tinggi dengan beralih fokus ke nomor ganda. Dukungan tim, pengalaman di turnamen sebelumnya, dan upaya mengelola tekanan mental diharapkan menjadi kunci bagi Andreeva untuk kembali meraih kemenangan di kompetisi selanjutnya.
