PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 24 April 2026 | Gorontalo, 23 April 2026 – Dua anak sekolah dasar berusia 9 dan 11 tahun dilaporkan hanyut pada Selasa (21/4/2026) sore hari setelah bermain di tepi Sungai Bulango, sebuah aliran kecil yang melintasi kawasan pedesaan Kabupaten Gorontalo Utara. Kedua anak, yang bernama Rian dan Dini, hilang selama kurang lebih satu jam sebelum tim SAR gabungan berhasil menemukan jasad mereka pada Jumat (24/4/2026) pagi.
Menurut keterangan saksi mata, kedua bocah itu sempat berlarian di area rawa-rawa dekat sungai setelah pulang sekolah. Saat mereka mendekati bibir sungai, salah satu anak terjatuh ke dalam air yang alirannya cukup deras akibat curah hujan intensitas tinggi selama tiga hari terakhir. Upaya menolong pertama kali dilakukan oleh beberapa warga yang berada di lokasi, namun mereka tidak memiliki peralatan memadai dan arus sungai semakin kuat.
Setelah laporan diterima pada pukul 16.20 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gorontalo Utara mengerahkan tim penyelamatan yang terdiri atas relawan SAR, aparat TNI, Polri, serta petugas pemadam kebakaran setempat. Operasi pencarian berlangsung selama tiga hari dengan menggunakan perahu karet bermesin, jaring penangkap, serta drone pemantau visual dari udara. Pada hari ketiga, sekitar pukul 06.45 WIB, tim menemukan dua jasad yang mengambang tak jauh dari titik awal kecelakaan, tepatnya di daerah Desa Luwuk Batin, sekitar 1,3 kilometer hilir dari lokasi kejadian.
Jasad Rian dan Dini dievakuasi ke posko SAR terdekat dan kemudian dibawa ke rumah duka di pusat kecamatan. Kepala Tim SAR, Komandan Agus Prasetyo, menyatakan, “Operasi penyelamatan berjalan sesuai prosedur, namun kondisi arus yang cepat dan kegelapan sore menyulitkan proses penemuan awal. Kami bersyukur dapat menemukan kedua korban pada hari ketiga, meskipun dalam keadaan meninggal dunia.”
- Lokasi kejadian: Tepian Sungai Bulango, Desa Luwuk Batin, Gorontalo Utara.
- Waktu hilang: 17.30 WIB, Selasa 21 April 2026.
- Waktu penemuan: 06.45 WIB, Jumat 24 April 2026.
- Usia korban: 9 tahun (Rian) dan 11 tahun (Dini).
- Tim SAR: BPBD Gorontalo Utara, TNI, Polri, relawan SAR, pemadam kebakaran.
Selain fakta teknis, muncul pula spekulasi dari keluarga korban yang menyatakan adanya kecurigaan terhadap penyebab kejadian. Ibu Rian, Siti Mariah, mengaku sempat curiga bahwa anaknya mungkin dipaksa masuk ke sungai oleh sekelompok remaja yang sebelumnya berselisih dengan keluarganya. “Kami mendengar rumor bahwa ada perkelahian kecil di sekitar sungai pada hari itu, namun belum ada bukti yang jelas,” ungkapnya dengan nada khawatir.
Pihak kepolisian setempat telah membuka penyelidikan khusus untuk menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain. Detektif polisi, Letnan Jenderal Budi Santoso, menegaskan, “Kami akan memeriksa semua saksi, termasuk para remaja yang berada di sekitar lokasi pada saat kejadian, serta mengumpulkan rekaman CCTV dari rumah warga terdekat. Kami tidak menutup kemungkinan adanya faktor lain selain kecelakaan alam.”
Gubernur Gorontalo, Dr. Hadi Nurdin, dalam konferensi pers hari Senin (27/4/2026) menekankan pentingnya edukasi keselamatan air bagi anak-anak. “Kejadian tragis ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak, terutama orang tua, untuk selalu mengawasi kegiatan anak di dekat perairan. Pemerintah akan meningkatkan pemasangan papan peringatan dan memperluas program pelatihan pertolongan pertama di sekolah,” ujarnya.
Sejumlah langkah preventif juga diumumkan oleh BPBD Gorontalo Utara, antara lain penambahan pos pengawasan air, pemasangan rambu peringatan arus deras, serta sosialisasi tentang bahaya arus kuat melalui media lokal. Selain itu, pemerintah daerah berjanji akan memperbaiki jalur evakuasi darurat di wilayah rawan banjir.
Kasus dua bocah hanyut ini menambah daftar panjang kecelakaan air di Indonesia tahun 2026, termasuk insiden serupa di Sungai Komering, Sumatera Selatan, yang menewaskan seorang siswi SMP. Analisis para pakar menunjukkan bahwa peningkatan intensitas curah hujan akibat perubahan iklim menjadi faktor utama meningkatnya kejadian arus deras dan banjir bandang.
Dengan berakhirnya operasi penyelamatan, keluarga korban kini harus berduka. Namun, proses hukum dan investigasi masih berjalan, dan masyarakat diharapkan dapat memberikan dukungan serta menghindari penyebaran rumor yang belum terverifikasi.
Kasus ini menjadi pengingat kuat bahwa keselamatan anak di lingkungan perairan harus menjadi prioritas utama, baik dari sisi keluarga, sekolah, maupun pemerintah daerah.
