PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 02 Mei 2026 | Stasiun Bekasi Timur kembali menjadi pusat perhatian setelah KAI Commuter mengoperasikan sebuah posko khusus bagi keluarga korban kecelakaan kereta api. Posko ini dibuka untuk memudahkan keluarga yang ingin mengambil barang-barang pribadi korban yang masih berada di ruang Lost & Found, sekaligus memberikan layanan pendampingan psikologis dan bantuan pendidikan.
Menurut pernyataan Public Relations Manager KAI Commuter, Leza Arlan, hingga saat ini sebanyak 113 buah barang milik penumpang yang menjadi korban tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL telah terkumpul. Dari jumlah tersebut, 47 barang sudah diserahkan kepada pemiliknya, meninggalkan 66 barang yang masih menunggu penjemputan. Daftar barang meliputi sepatu, sandal, telepon genggam, koper, headphone, jam tangan, tas, hingga botol minuman.
Keluarga atau kerabat yang hendak mengambil barang harus mendatangi Stasiun Bekasi Timur dan menghubungi layanan Lost & Found. Seluruh proses penyerahan barang dipastikan dengan verifikasi identitas melalui kartu identitas resmi, guna menjamin keabsahan kepemilikan. Posko informasi yang didirikan di area stasiun juga melayani pertanyaan terkait prosedur pengambilan, jam operasional, dan bantuan administrasi lainnya.
- Sepatu dan sandal – 23 pasang
- Telepon genggam – 15 unit
- Koper – 8 buah
- Headphone – 12 pasang
- Jam tangan – 9 buah
- Tas dan perlengkapan pribadi lainnya – 19 buah
Selain urusan barang, KAI juga menegaskan komitmen sosialnya dengan memberikan jaminan pendidikan kepada anak korban yang meninggal. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, secara pribadi mengunjungi keluarga korban dan menyampaikan dukungan berupa program Asuransi Pendidikan. Program ini diharapkan dapat membantu anak korban melanjutkan pendidikan tanpa terbebani secara finansial.
Penanganan korban tidak hanya terbatas pada aspek material. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menambahkan bahwa layanan trauma healing dan konseling psikologis juga disediakan bagi keluarga yang masih merasakan dampak emosional. “Pemulihan mencakup kondisi fisik dan psikologis. Kami berupaya menyediakan pendampingan menyeluruh,” ujar Anne.
Suasana di Stasiun Bekasi Timur pada Jumat, 1 Mei 2026, menampilkan rangkaian buket bunga yang diletakkan oleh masyarakat sebagai penghormatan kepada 16 korban meninggal dunia. Bunga mawar, krisan, dan jenis lainnya tersusun rapi di lantai dan atas meja, dilengkapi dengan kartu ucapan serta catatan doa. Foto-foto korban juga dipajang di antara rangkaian bunga, menambah kesan haru bagi para pelaku penghormatan.
Siti Nurkhalifah, seorang warga dari Babelan, menuturkan bahwa meskipun tidak mengenal korban secara pribadi, ia merasa terpanggil untuk berpartisipasi. “Melihat begitu banyak nyawa yang hilang, kami ingin menunjukkan rasa empati lewat bunga dan doa,” ungkapnya sambil meneteskan air mata.
Posko KAI di Stasiun Bekasi Timur kini berfungsi ganda: sebagai titik penjemputan barang pribadi serta pusat layanan pendampingan bagi keluarga yang terdampak. Dengan koordinasi antara tim operasional, layanan konseling, dan program pendidikan, KAI berupaya memberikan solusi yang holistik bagi para korban.
Secara keseluruhan, inisiatif ini menunjukkan langkah konkret KAI dalam menanggapi tragedi, tidak hanya dari sisi logistik tetapi juga aspek kemanusiaan. Diharapkan, dengan adanya posko dan program pendampingan, keluarga korban dapat memperoleh kembali barang berharga mereka serta mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk melanjutkan kehidupan.
