Skandal Lagu “Erika” Mengguncang ITB: OSD HMT ITB Minta Maaf, Tarik Konten, dan Janji Reform Budaya Mahasiswa

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 16 April 2026 | Viralnya video mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menyanyikan lagu berjudul “Erika” memicu gelombang protes publik pada pertengahan April 2026. Lirik yang dianggap vulgar dan mengandung unsur pelecehan terhadap perempuan menimbulkan kemarahan warganet, aktivis gender, serta kalangan akademisi. Kontroversi ini sekaligus menyoroti keberadaan Orkes Semi Dangdut (OSD) di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB, sebuah unit seni musik yang telah beroperasi sejak era 1970-an.

OSD HMT ITB dikenal sebagai wadah kreativitas musik mahasiswa pertambangan yang mengusung genre semi dangdut, satire, dan humor kampus. Selama lebih dari empat dekade, OSD menghasilkan berbagai lagu yang mengangkat tema ringan seperti kehidupan kampus, percintaan, dan dinamika sosial mahasiswa. Di antara karya-karya mereka, lagu “Anissa” dan “25 Karat” pernah mencuri perhatian, namun lagu “Erika” menjadi sorotan utama setelah video penampilannya beredar luas di media sosial pada awal April 2026.

Baca juga:

Lagu “Erika” sebenarnya bukan ciptaan baru; menurut catatan internal HMT ITB, lagu tersebut diciptakan pada era 1980-an sebagai bagian dari repertoar OSD. Namun, ketika video penampilan terbaru dipublikasikan, beberapa bait lirik yang menggambarkan perempuan secara seksis dan menyinggung norma kesusilaan modern menuai kecaman keras. Kritik publik mengaitkan kejadian ini dengan meningkatnya sensitivitas terhadap isu pelecehan seksual di lingkungan kampus Indonesia.

Menanggapi sorotan media, Himpunan Mahasiswa Tambang ITB mengeluarkan pernyataan resmi pada Rabu, 15 April 2026. Dalam pernyataan tersebut, organisasi menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat, khususnya perempuan, atas keresahan yang ditimbulkan oleh penampilan lagu tersebut. Pihak HMT ITB mengakui bahwa menampilkan lagu lama tanpa menyesuaikan dengan perkembangan norma sosial merupakan kelalaian.

Pernyataan resmi juga memaparkan langkah-langkah konkret yang akan diambil, antara lain:

  • Menghapus seluruh video dan audio lagu “Erika” yang telah beredar di kanal resmi HMT ITB serta akun individu yang terafiliasi.
  • Melakukan evaluasi internal menyeluruh terhadap konten musik dan program kegiatan organisasi.
  • Merevisi pedoman etika dan standar kebijakan internal agar selaras dengan nilai-nilai kesetaraan gender dan kesusilaan.
  • Mengadakan pelatihan kesadaran gender bagi anggota organisasi dan mahasiswa ITB secara umum.

Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menegaskan komitmen HMT ITB dalam menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan bebas dari konten yang dapat merendahkan martabat individu atau kelompok mana pun. Selain itu, pihak universitas juga dijadwalkan melakukan dialog terbuka dengan mahasiswa, aktivis, serta lembaga eksternal untuk meninjau kembali praktik budaya organisasi kemahasiswaan.

Reaksi publik tidak berhenti pada permintaan maaf. Beberapa komentar menuntut penegakan sanksi administratif terhadap OSD serta pertanggungjawaban pimpinan HMT ITB. Di sisi lain, sebagian kalangan mengapresiasi langkah proaktif HMT ITB dalam menarik konten dan berjanji melakukan reformasi internal.

Baca juga:

Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana tradisi lama dapat berbenturan dengan nilai-nilai modern apabila tidak mendapat pembaruan yang relevan. Di era digital, setiap konten yang dipublikasikan dapat menyebar dalam hitungan menit, sehingga tanggung jawab etis menjadi semakin penting bagi lembaga pendidikan tinggi.

Seiring proses penarikan konten dan evaluasi internal berjalan, perhatian publik kini beralih pada implementasi kebijakan baru dan keberlanjutan upaya pencegahan serupa di masa mendatang. HMT ITB berjanji akan terus memantau dampak kebijakan tersebut serta melaporkan hasilnya kepada komunitas kampus dan publik secara transparan.

Dengan langkah-langkah perbaikan yang telah diumumkan, diharapkan insiden serupa tidak terulang, dan budaya organisasi mahasiswa di ITB dapat berkembang menjadi lebih sensitif, inklusif, dan selaras dengan standar etika kontemporer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *