PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 19 Mei 2026 | Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale telah menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Film ini mengangkat isu eksploitasi sumber daya alam, konflik agraria, serta praktik kolonialisme modern di wilayah Indonesia.
Hingga Mei 2026, film berdurasi 95 menit ini hanya tersedia melalui pemutaran terbatas pada forum komunitas dan akademik. Banyak orang penasaran mengenai film Pesta Babi tayang kapan dan di mana, terutama setelah sejumlah potongan adegan dan forum diskusinya viral di internet.
Menurut informasi, film Pesta Babi pertama kali diputar dalam gala premiere pada 12 April 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Penayangan perdana tersebut dihadiri pegiat film dokumenter, akademisi, aktivis lingkungan, hingga komunitas masyarakat sipil yang selama ini mengikuti isu konflik agraria dan eksploitasi sumber daya alam di Indonesia.
Setelah gala premiere, film ini kemudian diputar dalam sejumlah forum diskusi publik, pemutaran komunitas, hingga agenda akademik di beberapa negara. Film dokumenter tersebut juga disebut sempat dipresentasikan dalam forum di Berlin dan Columbia University.
Meski sudah ramai dibicarakan, hingga Mei 2026 film Pesta Babi belum mendapat jadwal tayang reguler di bioskop komersial Indonesia. Saat ini, film Pesta Babi masih tayang secara terbatas melalui acara nonton bareng atau nobar yang diinisiasi oleh kelompok masyarakat, komunitas, ataupun kampus.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak membantah telah menginstruksikan prajurit TNI AD untuk membubarkan kegiatan nonton bareng (nobar) Film Pesta Babi. Menurutnya, pembubaran dilakukan atas pertimbangan keamanan wilayah oleh pemerintah daerah setempat.
Bagi masyarakat umum, judul film ini mungkin terdengar aneh. Namun, istilah Pesta Babi sebenarnya merujuk pada metafora tradisi sakral suku Muyu di Papua yang disebut Awon Atatbon. Dalam budaya asli Papua, ritual besar ini melibatkan babi yang menjadi simbol status sosial, penghubung relasi, dan bentuk penghormatan budaya tertinggi.
Dengan keberlangsungan ritual Awon Atatbon sangat bergantung pada kelestarian hutan dan alam, judul Pesta Babi difungsikan sebagai pengingat. Melalui film ini, sang sutradara berusaha menunjukkan bahwa kehampaan hutan Papua bukan hanya soal kerusakan lingkungan, tetapi juga tentang hilangnya budaya dan ruang hidup bagi manusia.
Sejak tanggal 27 April 2026, studio film Watchdoc tidak menampilkan film ini secara terbuka di platform yang bersifat komersial. Sebagai ganti menontonnya secara individual, Watchdoc mengundang publik untuk berpartisipasi dalam gerakan Nonton Bareng (Nobar) komunitas.
Dengan hanya mengumpulkan setidaknya 10 orang penonton, sudah dapat melakukan koordinasi untuk memperoleh akses ke film ini. Namun, terdapat sejumlah persyaratan dan ketentuan yang wajib dipatuhi oleh penyelenggara.
Kesimpulan, film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan film dokumenter yang mengangkat isu eksploitasi sumber daya alam, konflik agraria, serta praktik kolonialisme modern di wilayah Indonesia. Film ini masih tayang secara terbatas melalui acara nonton bareng atau nobar yang diinisiasi oleh kelompok masyarakat, komunitas, ataupun kampus.
