PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 24 April 2026 | Harga bahan bakar di Indonesia terus melambung tajam sejak awal tahun 2026, menambah beban rumah tangga dan menggerakkan pasar otomotif mencari alternatif hemat. Di tengah kebingungan konsumen, kendaraan listrik (EV) kembali menjadi sorotan, terutama model premium yang kini menghadapi perubahan regulasi pajak.
Model MPV mewah BYD, Denza D9, yang sempat menikmati kebijakan bebas pajak selama bertahun-tahun, kini harus menyesuaikan diri dengan Permendagri Nomor 11 Tahun 2026. Aturan baru ini menghapus skema pajak nol rupiah dan menilai pajak tahunan berdasarkan Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) serta koefisien bobot kendaraan. Dampaknya, beban tahunan Denza D9 melonjak signifikan, namun anehnya pasar mobil bekas menunjukkan tren penurunan harga.
Simulasi Pajak Tahunan Denza D9
| Komponen | Skema Lama (hingga 2025) | Skema Baru (2026) |
|---|---|---|
| PKB (2% NJKB) | Rp0 | Rp19.551.000 |
| SWDKLLJ | Rp143.000 | Rp143.000 |
| Biaya Administrasi | ± Rp50.000 | ± Rp50.000 |
| Total Beban Tahunan | ≈ Rp193.000 | ≈ Rp19.744.000 |
Angka di atas bersifat simulasi dan dapat bervariasi antar pemerintah daerah. Namun, jelas bahwa beban pajak meningkat hampir seratus kali lipat dibandingkan era sebelumnya.
Pengaruh Pada Harga Mobil Bekas
Paradox muncul ketika harga Denza D9 bekas 2025 mulai menunjukkan penurunan. Beberapa dealer dan platform jual-beli online melaporkan penurunan rata-rata 5-7% dibandingkan harga baru. Penurunan ini dipicu oleh dua faktor utama:
- Pengurangan Insentif Pajak: Dengan berakhirnya pembebasan pajak, pemilik baru menghitung total biaya kepemilikan (TCO) yang lebih tinggi, menurunkan daya beli.
- Kenaikan BBM: Harga bensin dan solar yang melonjak membuat konsumen lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang untuk mobil bermesin konvensional, sehingga mereka beralih ke EV meski pajaknya naik.
Data lapangan menunjukkan bahwa mobil Denza D9 tahun 2025 dengan varian standar (RWD) dijual antara Rp1,2 hingga Rp1,35 miliar, lebih rendah dibandingkan harga baru yang mendekati Rp1,5 miliar. Penurunan ini memberi peluang bagi konsumen yang ingin merasakan kemewahan EV dengan biaya yang lebih terjangkau.
Solusi Menghadapi Kenaikan BBM
Berbagai pihak menawarkan langkah praktis untuk mengurangi dampak kenaikan BBM:
- Beralih ke Kendaraan Listrik: Meskipun pajak naik, biaya operasional harian tetap lebih rendah karena listrik lebih murah daripada bensin.
- Optimalkan Pengisian Daya: Memanfaatkan tarif listrik off-peak atau energi terbarukan untuk mengisi baterai dapat menurunkan biaya per kWh.
- Manfaatkan Insentif Daerah: Beberapa pemerintah kota masih menawarkan subsidi atau kemudahan parkir untuk EV, mengurangi beban total pemilik.
- Perawatan Berkala: Kendaraan listrik memerlukan perawatan lebih sedikit dibandingkan ICE, sehingga biaya tahunan tetap terkendali.
Dengan menggabungkan strategi tersebut, konsumen dapat menekan biaya kepemilikan meski pajak tahunan Denza D9 meningkat secara signifikan.
Secara keseluruhan, dinamika pasar menunjukkan bahwa kenaikan BBM tidak serta-merta menurunkan minat pada kendaraan listrik premium. Sebaliknya, penurunan harga mobil bekas seperti Denza D9 membuka jendela kesempatan bagi kelas menengah ke atas yang mengincar mobil mewah ramah lingkungan dengan anggaran lebih bersahabat.
Para pengamat pasar menyarankan calon pembeli untuk memperhitungkan Total Cost of Ownership (TCO) secara menyeluruh, termasuk pajak, biaya listrik, perawatan, dan potensi nilai jual kembali. Dengan pemahaman yang tepat, Denza D9 dapat menjadi investasi jangka panjang yang menguntungkan, terutama di era di mana harga BBM terus menanjak.
