PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 03 Mei 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencatat penurunan tajam sepanjang tahun 2026, menurun hampir 20% hingga menyentuh level 6.956,81 poin. Penurunan ini dipicu oleh koreksi luas pada saham-saham berkapitalisasi jumbo, termasuk BBRI (Bank Rakyat Indonesia). Saham BBRI mengalami penurunan 18,31% menjadi Rp2.990 per lembar, memberi beban negatif sebesar 105,19 poin pada IHSG.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 April menempatkan BBRI di antara 10 saham paling lemah (top laggards) tahun ini. Berikut rangkuman performa 10 saham terburuk yang menekan indeks:
| Kode Saham | Penurunan | Beban IHSG (poin) |
|---|---|---|
| DSSA | -60,02% | -214,26 |
| BBCA | -27,55% | -210,18 |
| BREN | -54,02% | -193,86 |
| BBRI | -18,31% | -105,19 |
| FILM | -83,59% | -95,27 |
| BRPT | -43,88% | -82,82 |
| TLKM | -19,25% | -70,28 |
| BYAN | -27,39% | -68,57 |
| MORA | -60,91% | -56,97 |
| BMRI | -13,92% | -55,33 |
Penurunan BBRI tidak terlepas dari tekanan eksternal seperti ketegangan geopolitik, volatilitas harga minyak, dan keputusan MSCI yang menunda penyesuaian komposisi saham Indonesia. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp49,87 triliun, menurunkan valuasi pasar menjadi PER 14,69 kali dan PBV 1,9 kali. Meskipun demikian, analis melihat peluang jangka menengah karena valuasi kini berada di level historis rendah, memberikan margin of safety bagi investor yang bersedia menunggu katalis pemulihan.
Di sisi lain, BRI menunjukkan kekuatan fundamental melalui transformasi digitalnya. Platform super app BRImo mencatat 47,8 juta pengguna pada akhir Maret 2026, naik 18,6% year‑on‑year. Volume transaksi melalui BRImo mencapai Rp2.042,2 triliun, meningkat 29,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini memperkuat dana pihak ketiga (DPK) BRI menjadi Rp1.555,1 triliun, dengan CASA (dana murah) menyentuh 68,07% atau Rp1.058,6 triliun. Efisiensi biaya dana tercermin dari penurunan cost of fund dari 3% menjadi 2,3%.
Keberhasilan digitalisasi turut mendukung profitabilitas BRI. Total aset bank mencapai Rp2.250 triliun, naik 7,2% yoy, sementara kredit dan pembiayaan meningkat 13,7% menjadi Rp1.562 triliun. Laba bersih konsolidasian tercatat Rp15,5 triliun, naik 13,7% yoy pada kuartal I 2026. Kombinasi peningkatan CASA, penurunan biaya dana, dan pertumbuhan kredit selektif memberikan ruang bagi margin bunga bersih yang lebih baik di masa depan.
Pemerintah juga menyiapkan kebijakan yang dapat memengaruhi sektor perbankan. Presiden Prabowo Subianto berjanji menyalurkan kredit rakyat dengan suku bunga maksimum 5% per tahun. Meskipun niatnya untuk meringankan beban konsumen, analis memperingatkan lima risiko utama bagi bank BUMN, termasuk BRI: kompresi margin, peningkatan NPL, provisi yang lebih tinggi, penurunan ROE, dan penurunan valuasi saham. Jika kebijakan ini dijalankan tanpa kontrol yang ketat, profitabilitas BRI bisa tertekan.
Secara keseluruhan, meskipun BBRI saham berada di posisi lemah dalam indeks, fundamental perusahaan tetap kuat berkat strategi digital dan kinerja keuangan yang solid. Investor yang mengutamakan jangka menengah hingga panjang dapat mempertimbangkan akumulasi BBRI saham dengan hati‑hati, memperhatikan perkembangan kebijakan kredit pemerintah serta dinamika arus masuk dana asing.
