Review Dilan ITB 1997: Romansa Dewasa ITB‑Unpad yang Bikin Baper!

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 03 Mei 2026 | Film Dilan ITB 1997 kembali menghidupkan kembali kisah cinta legendaris antara Dilan dan Ancika, kali ini dengan latar kampus ITB‑Unpad pada era 1997. Pemeran utama Ariel Noah menggantikan peran ikonik sebelumnya dan menghadirkan nuansa dewasa yang menyesuaikan usia karakter yang kini menapaki kehidupan mahasiswa.

Pertunjukan perdana berlangsung pada acara “Nonton Bareng Dilan ITB 1997” di Cinépolis Senayan Park, Jakarta, Kamis 30 April 2026. Antusiasme penonton terlihat tinggi, terutama karena kehadiran Ariel Noah, Niken Anjani, serta Raline Shah. Di sela sesi wawancara, Ariel mengakui adanya tekanan besar saat memerankan Dilan, mengingat karakter ini telah melekat kuat di hati publik sejak adaptasi pertama. Ia menyebut beban tersebut sebagai bagian wajar dari proses akting, menyamakan pengalaman dengan peran superhero seperti Batman atau Superman.

Baca juga:

Meski merasakan tekanan, Ariel menegaskan bahwa ia tidak berusaha menciptakan versi Dilan yang sepenuhnya baru. Ia lebih memilih menyerap karakter dari lingkungan sekitarnya, khususnya mahasiswa Bandung yang kerap menunggang motor, berkumpul dalam geng, dan menjalani kehidupan kampus yang dinamis. “Kalau gue pribadi memang ngelihat Dilan, mungkin orang‑orang lain juga lihat Dilan seperti kebanyakan orang Bandung,” ujarnya.

Sutradara Fajar Bustomi dan penulis novel Pidi Baiq memberikan kebebasan kepada Ariel untuk mengeksplorasi “versi” Dilan yang paling cocok dengan latar cerita. Kedua tokoh kreatif tersebut tidak melarang eksplorasi, melainkan mendukung agar karakter tetap autentik namun relevan dengan konteks tahun 1997 yang penuh dinamika politik dan sosial.

Berbeda dengan Dilan versi sebelumnya yang dikenal dengan gombalan romantis, Niken Anjani menjelaskan bahwa Dilan dalam film ini tidak lagi mengandalkan kata‑kata manis. “Di sini Dilan gak ngegombal, deh,” kata Niken, menambahkan bahwa pendekatan Dilan kini lebih kepada aksi daripada verbal. Hal ini mencerminkan pertumbuhan karakter yang telah memasuki fase dewasa, menyesuaikan dengan latar akademik di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB.

Baca juga:

Ariel menambahkan bahwa skrip baru memberikan tantangan unik. Dilan kembali dari Kuba dan langsung berhadapan dengan realitas Indonesia tahun 1997, yang menuntut dia menjadi lebih reflektif. “Gak banyak gombal. Sama sekali kayak gak ada gombalnya,” ungkap Ariel, menegaskan pergeseran tonalitas karakter.

Kimia antara Ariel dan Niken terbangun melalui serangkaian sesi reading intensif. Kedua aktor menghabiskan waktu bersama untuk memperdalam dialog, sekaligus belajar logat Bandung yang otentik. Niken mengaku banyak belajar bahasa Sunda dari Ariel, sementara Ariel menukar ilmu akting dengan Niken demi menyesuaikan logat dan gestur karakter Ancika.

Secara visual, film ini menampilkan kembali atmosfer kampus ITB dengan detail arsitektur era 1990‑an, serta adegan‑adegan yang menampilkan motor klasik, ruang kelas, dan hangout di kafe kampus. Penggunaan warna hangat dan soundtrack yang menggabungkan musik pop Indonesia tahun 90‑an menambah kedalaman nostalgia.

Baca juga:

Dalam menilai keseluruhan, Dilan ITB 1997 berhasil menyajikan romansa dewasa yang tetap memikat, meski mengurangi elemen gombal yang menjadi ciri khas sebelumnya. Penampilan Ariel Noah menonjol sebagai Dilan yang lebih tenang, namun tetap memancarkan karisma khas Bandung. Niken Anjani memberikan sentuhan lembut namun kuat sebagai Ancika, menciptakan chemistry yang terasa natural di layar lebar.

Kesimpulannya, film ini tidak hanya sekadar remake, melainkan sebuah reinterpretasi yang menyesuaikan karakter dengan usia, latar, dan dinamika sosial tahun 1997. Bagi penonton yang ingin merasakan kembali getaran cinta kampus ITB‑Unpad dengan sentuhan modern, Dilan ITB 1997 layak menjadi pilihan utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *