PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 03 Mei 2026 | Di pelosok Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, seorang guru Sekolah Dasar telah mengabdikan diri selama sebelas tahun meski hanya menerima gaji bulanan Rp150.000. Tanpa status kepegawaian tetap, ia menempuh jarak enam kilometer kaki setiap pagi untuk sampai ke kelas tempatnya mengajar. Kisahnya menjadi cerminan nyata tantangan pendidikan di wilayah terpinggirkan Indonesia.
Guru tersebut memulai karirnya pada tahun 2013, ketika banyak desa di Sikka masih belum memiliki akses listrik memadai dan fasilitas pendidikan minim. Ia menginap di rumah sanak saudara karena tidak ada transportasi umum yang tersedia. Setiap hari, sebelum matahari terbit, ia berangkat dari rumahnya, menyeberangi sungai kecil dan menanjak jalur berbatu yang memakan waktu sekitar dua puluh menit. Perjalanan itu menjadi rutinitas yang tak pernah ia keluhkan, karena ia percaya pendidikan adalah hak setiap anak, tak peduli latar belakang ekonomi.
Gaji Rp150 ribu yang diterima setiap bulan jauh di bawah upah minimum provinsi. Tanpa tunjangan kesehatan atau pensiun, guru itu mengandalkan dukungan keluarga dan sesekali bantuan dari lembaga non‑pemerintah. Pada tahun 2024, sebuah tim relawan dari Plan Indonesia bersama Kompas.com melakukan kunjungan ke beberapa sekolah di NTT, termasuk SD Katolik Bekek di Ngada, yang menunjukkan bagaimana komunitas lokal berupaya saling membantu meski kondisi sarana masih terbatas.
Berbagai masalah yang dihadapi guru di wilayah ini meliputi:
- Keterbatasan sarana belajar: bangunan sekolah sebagian besar berusia puluhan tahun, atap bocor, dan ruang kelas tidak memadai.
- Kurangnya fasilitas kesehatan: guru dan siswa tidak memiliki akses mudah ke layanan medis.
- Rendahnya motivasi ekonomi: banyak orang tua bekerja sebagai nelayan atau petani dengan pendapatan tidak menentu.
Meskipun begitu, semangat toleransi dan kebersamaan tetap kuat. Di SD Katolik Bekek, mayoritas guru dan siswa beragama Muslim, menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang dalam proses belajar mengajar. Kepala sekolah Monika Owa menegaskan bahwa nilai toleransi ditanamkan sejak dini, sehingga siswa dapat belajar dalam lingkungan yang aman dan inklusif.
Berita tentang guru Sikka ini menginspirasi banyak pihak untuk memberikan perhatian lebih pada kebijakan gaji tenaga pendidik di daerah terpencil. Pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat meninjau kembali standar remunerasi, mengintegrasikan guru ke dalam kepegawaian negeri, serta menyediakan fasilitas transportasi atau subsidi bahan bakar bagi mereka yang harus menempuh jarak jauh.
Selain peningkatan finansial, dukungan berupa pelatihan profesional, penyediaan materi ajar modern, dan program beasiswa bagi anak-anak di daerah tersebut menjadi langkah strategis. Jika sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta dapat terjalin, harapan akan peningkatan kualitas pendidikan di Sikka dan sekitarnya akan menjadi lebih realistis.
Dengan tekad yang kuat, guru Sikka terus melangkah menembus keterbatasan. Setiap langkahnya, meski berbayar minim, menyiratkan komitmen besar terhadap generasi penerus. Ia berharap anak‑anaknya kelak dapat menikmati kesempatan belajar yang lebih baik, bebas dari beban ekonomi yang mengikat.
