PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 08 Mei 2026 | Fitch Ratings memperkirakan pasar modal utang (debt capital market/DCM) Indonesia akan mencapai 800 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026. Sebagian besar dari capaian ini didorong oleh penerbitan surat utang pemerintah. Penerbitan obligasi korporasi di pasar domestik juga diperkirakan meningkat.
Indonesia akan tetap menjadi salah satu pasar sukuk terbesar di dunia dan penerbit utang utama di antara negara berkembang (emerging markets/EM) serta kawasan ASEAN pada tahun ini. Namun, keterlambatan pembayaran atau restrukturisasi utang oleh perusahaan kemungkinan masih akan terus terjadi.
Pasar utang Indonesia juga harus menghadapi risiko utama yaitu volatilitas pasar domestik yang berkaitan dengan kekhawatiran terhadap tata kelola pasar modal, serta dampak perang Iran terhadap sentimen pasar negara berkembang dan harga minyak dunia.
Menurut laporan Fitch Ratings, faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi tren penerbitan utang dan memicu arus keluar modal, kenaikan biaya pendanaan, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah, yang sempat mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada bulan April.
Investor asing kembali mengurangi kepemilikan mereka atas surat berharga negara domestik yang dapat diperdagangkan, hingga turun di bawah 13 persen pada pertengahan April. Hal ini mencerminkan meningkatnya sikap hati-hati investor terhadap risiko (risk-off sentiment), pelemahan nilai tukar rupiah, dan kenaikan imbal hasil (yield).
Pemerintah saat ini lebih memprioritaskan pendanaan dalam rupiah sebagai bagian dari strategi utang 2026–2030. Di Fitch, kami memberikan peringkat pada hampir seluruh sukuk Indonesia berdenominasi dolar AS yang diterbitkan pemerintah dengan rating ‘BBB’.
Indonesia memiliki pasar modal utang terbesar keempat di antara negara berkembang—di luar Cina—dan terbesar di kawasan ASEAN. Pada akhir kuartal I 2026, entitas Indonesia juga menjadi penerbit sukuk terbesar di dunia.
Nilai outstanding pasar DCM Indonesia mencapai 755 miliar dolar AS pada akhir kuartal I 2026, meningkat 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Dari total tersebut, porsi sukuk mencapai 17,5 persen, naik 16,8 persen pada kuartal I 2025.
Kesimpulan, pasar utang Indonesia diperkirakan akan terus tumbuh dan berkembang, dengan pemerintah yang terus memprioritaskan pendanaan dalam rupiah. Namun, masih ada risiko yang perlu dihadapi, seperti volatilitas pasar domestik dan dampak perang Iran terhadap sentimen pasar negara berkembang.
