PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 08 Mei 2026 | Di tengah ketegangan perbatasan antara Thailand dan Kamboja, Filipina berusaha menjadi penengah untuk meredakan konflik tersebut. Pada pertemuan trilateral di sela-sela KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, Presiden Ferdinand Marcos Jr. memfasilitasi dialog antara Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul.
Pertemuan ini menandai intervensi diplomatik terkuat Filipina sebagai ketua ASEAN tahun 2026. Dalam konferensi pers setelah pertemuan trilateral, Presiden Marcos menjelaskan bahwa diskusi tersebut mencerminkan komitmen ASEAN terhadap dialog, sikap saling menghargai, dan penyelesaian konflik secara damai di tengah ketegangan kawasan.
Konflik antara Thailand dan Kamboja berawal dari sengketa perbatasan di sekitar kompleks Candi Khmer kuno, yang kemudian eskalasi menjadi perang terbuka dengan senjata berat dan serangan udara pada pertengahan 2025. Perang tersebut mengakibatkan hampir 150 orang tewas dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi.
Meskipun gencatan senjata sempat disepakati dalam KTT ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur tahun lalu, ketegangan kembali terjadi beberapa pekan setelahnya. Gencatan senjata kedua kalinya pun kembali dijalankan. Dalam pertemuan Kamboja dan Thailand yang dimediasi Filipina, Marcos Jr. mengatakan Manet dan Charnvirakul sepakat akan pentingnya menjaga komunikasi, saling menahan diri, dan menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan.
Presiden Marcos Jr. yakin bahwa perdamaian dapat tercapai karena keyakinan yang kuat dari kedua pemimpin bahwa kini adalah waktunya perdamaian, bukan lagi waktunya perang. Manet dan Charnvirakul juga sepakat untuk menginstruksikan kepada kementerian luar negeri masing-masing untuk saling menjaga dialog serta menjajaki langkah-langkah baru guna mencegah konflik memanas dan melindungi stabilitas.
Tim Pemantau ASEAN (AOT) juga akan diperpanjang mandatnya selama tiga bulan ke depan hingga Juli 2026. Filipina terus berkomitmen memfasilitasi dialog antara kedua pihak, seiring upaya ASEAN menjaga perdamaian dan persatuan di kawasan.
Sementara itu, pelaku bisnis Vietnam di Kamboja juga berperan penting dalam memperkuat hubungan antara kedua negara. Dalam “Dialog Pelaku Bisnis Vietnam-Kamboja 2026” yang diadakan di Kedutaan Besar Vietnam di Phnom Penh, para pelaku bisnis Vietnam dan Kamboja membahas tentang rencana induk untuk konektivitas ekonomi kedua negara hingga tahun 2030.
Ho Sivyong, Kepala Direktorat Jenderal Layanan Pendukung Perdagangan Kamboja, menekankan bahwa hubungan perdagangan antara Kamboja dan Vietnam selalu mencatatkan pertumbuhan yang luar biasa dalam beberapa waktu terakhir. Ini merupakan bukti nyata bagi komitmen yang kuat dari para pemimpin tingkat tinggi kedua negara untuk memperkuat solidaritas dan kerja sama komprehensif.
Dalam konteks ini, kehadiran para pelaku bisnis Vietnam di Kamboja bukan hanya melalui angka-angka mengenai nilai perdagangan atau proyek investasi, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan hati masyarakat dan secara nyata membuktikan kekuatan hubungan tetangga yang erat.
Kesimpulan dari upaya Filipina sebagai penengah dalam konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja, serta peran pelaku bisnis Vietnam di Kamboja, menunjukkan bahwa kerja sama dan dialog adalah kunci untuk meredakan ketegangan dan memperkuat hubungan antar negara di kawasan Asia Tenggara.
