Ashanty Raih Gelar Doktor dari Universitas Airlangga, Meneliti Nasib Musisi Senior di Era Digital

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 15 Mei 2026 | Ashanty, penyanyi tanah air, baru saja lulus program doktor (S3) dari Universitas Airlangga (Unair). Ia resmi lulus setelah mengikuti Ujian Terbuka Doktoral pada Rabu (13/5/2026) lalu. Ashanty mengaku banyak tantangan yang hadir hingga akhirnya ia bisa melewati ujian tersebut, termasuk perannya sebagai seorang ibu dan praktisi musik.

Disertasi yang mengantarkannya lulus S3 memiliki judul “Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia“. Penelitian ini juga diterbitkan di jurnal Frontiers pada 7 April 2026 lalu dengan judul Reconfiguring agency under platform governance: Baby Boomer and Generation X singers negotiating identity, algorithms, and monetization.

Baca juga:

Ashanty menyoroti bagaimana musisi senior menavigasi platformisasi dalam konteks Global South. Dalam risetnya, Ashanty mengkaji bagaimana penyanyi Baby Boomer (1940-1964) dan Generasi X (1965-1980) Indonesia menjalankan peran aktif dalam ekonomi musik platform dengan menavigasi identitas generasi/profesional, logika algoritmik, dan praktik mencari penghasilan.

Untuk mendapatkan hasil penelitian, Ashanty melakukan wawancara naratif hingga biografis kepada 12 informan. Kemudian data hasil wawancara tersebut dianalisis secara tematik. Adapun hasil temuan dari Ashanty menunjukan bahwa seniman senior tidak mengalami penurunan agensi secara linier. Namun, agensi dikonfigurasi ulang menjadi kapasitas strategis, praktis, dan reflektif berlapis yang beroperasi di seluruh modalitas strukturisasi signifikasi, dominasi, dan legitimasi.

Selain itu, Ashanty melihat bahwa musisi senior yang bertahan pada era digital ini tak sepenuhnya tunduk pada sistem komputasi, mereka juga bisa menegosiasikan logika digital dengan esensi karya seni mereka. “Adaptasi ini sangat ditentukan oleh kemampuan seorang seniman dalam bernegosiasi antara tuntutan sistem digital saat ini. Jadi bagaimana mereka bisa adaptasi, tapi mereka juga tidak harus benar-benar mengerti teknologi yang ada saat ini,” jelasnya.

Baca juga:

Tak berhenti pada hasil riset, Ashanty berencana akan mengimplementasikannya sebagai bentuk hilirisasi riset. Menurutnya, hasil kerja kerasnya ini tak boleh dibiarkan begitu saja. “Saya sudah berdarah-darah dan lelah berjuang sampai di titik ini. Saya tidak mau disertasi ini hanya menumpuk dan berdebu di perpustakaan. Kita harus berguna dengan apa yang sudah kita perjuangkan,” kata Ashanty.

Universitas Airlangga juga memiliki dosen yang masuk nominasi ajang The 75th Lindau Nobel Laureate Meeting 2026, yaitu Dr. Veryl Hasan S.Pi., M.P. Ia berhasil masuk nominasi karena konsistensi melakukan penelitian di bidang konservasi sumber daya perairan.

Di lain pihak, Universitas Airlangga juga telah mengumumkan 770 nama siswa kandidat penerima Golden Ticket SNBP 2025. Ini menunjukkan bahwa Unair terus berkomitmen dalam mencari dan mengembangkan bakat-bakat muda di Indonesia.

Baca juga:

Kesimpulan dari seluruh informasi ini adalah bahwa Universitas Airlangga terus berinovasi dan berkontribusi dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan demikian, Unair dapat terus menjadi salah satu universitas terbaik di Indonesia dan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan di era digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *