PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 04 Mei 2026 | Polisi Jawa Barat berhasil menahan enam orang yang diduga menjadi otak di balik kerusuhan May Day di Bandung. Penangkapan dilakukan secara simultan pada Jumat dinihari di beberapa titik strategis, termasuk kawasan Simpang Cikapayang dan daerah Tamansari-Dago yang sempat menjadi saksi aksi massa berbalutan baju hitam.
Menurut keterangan resmi Polda Jabar, keenam tersangka merupakan anggota kelompok yang mengorganisir aksi anarkis terencana. Mereka bukan bagian dari kalangan buruh, melainkan individu yang diduga memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan terhubung dengan jaringan intelektual yang mengadvokasi perubahan radikal melalui aksi kekerasan. Identitas mereka masih dirahasiakan demi penyelidikan lebih lanjut.
Penangkapan pertama terjadi di Simpang Cikapayang, di mana aparat menemukan dua tersangka sedang menyiapkan alat peledak improvisasi. Pada saat yang sama, tim anti teror berhasil mengamankan tiga orang lainnya di sekitar area Tamansari, yang sebelumnya terlihat memimpin kerumunan baju hitam. Satu tersangka terakhir ditangkap di kawasan Dago setelah melakukan upaya melarikan diri dengan mengendarai sepeda motor.
Polisi menegaskan bahwa proses penangkapan berjalan lancar tanpa menimbulkan cedera tambahan. “Kami melakukan operasi berbasis intelijen selama berminggu‑minggu. Setiap langkah diambil dengan hati‑hati agar tidak menambah kerusuhan di masyarakat,” ujar Kepala Divisi Kriminal Polsek Bandung Selatan, Kombes Pol. Ahmad Fauzi.
Kerusuhan May Day yang terjadi pada 1 Mei lalu menelan kerugian material diperkirakan mencapai Rp400 juta. Fasilitas publik, kendaraan umum, dan sejumlah toko mengalami kerusakan berat. Tim Dishub Kota Bandung mencatat bahwa lebih dari 150 kendaraan rusak parah, sementara beberapa fasilitas umum harus ditutup sementara untuk perbaikan.
Di sisi lain, kalangan akademisi tidak tinggal diam. Seorang kriminolog terkemuka, Dr. Rina Suryani, menyatakan keprihatinan mendalam atas peran aktor intelektual dalam memicu aksi anarkis. “Ada pola koordinasi yang melibatkan tokoh‑tokoh pemikir yang menggunakan retorika revolusioner untuk merekrut kaum muda. Penangkapan enam pelaku anarkis hanyalah langkah awal. Penyelidikan harus meluas ke jaringan ideologis yang mendukung tindakan kekerasan,” ujarnya dalam konferensi pers di Universitas Padjadjaran.
Berikut rangkaian kronologis singkat kerusuhan May Day di Bandung:
- 08.00 WIB: Massa berbalutan baju hitam mulai berarak dari Jalan Braga menuju Simpang Cikapayang.
- 09.30 WIB: Terjadi bentrokan antara massa dan aparat di Simpang Cikapayang, menewaskan dua orang dan melukai puluhan.
- 10.15 WIB: Aksi meluas ke Jalan Tamansari, dengan penjarahan kendaraan umum dan perusakan fasilitas publik.
- 11.00 WIB: Polisi mengamankan daerah Dago, memisahkan sebagian massa yang masih beraksi.
- 12.30 WIB: Gencatan senjata diumumkan setelah intervensi tim khusus dan mediasi tokoh agama setempat.
Setelah penangkapan, para tersangka kini berada di tahanan Polsek Bandung Selatan untuk proses penyidikan lanjutan. Polisi menegaskan akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk penelusuran jaringan komunikasi dan keuangan yang mungkin menjadi sumber pendanaan aksi.
Pemerintah Kota Bandung juga mengumumkan rencana rehabilitasi area yang rusak, dengan alokasi anggaran khusus untuk memperbaiki infrastruktur publik dan memberikan kompensasi kepada korban. Sementara itu, kepolisian menolak semua spekulasi bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan buruh, menegaskan bukti menunjukkan bahwa para pelaku bukan anggota serikat pekerja manapun.
Kesimpulannya, penangkapan enam pelaku anarkis di Bandung menandai titik balik dalam upaya penegakan hukum atas kerusuhan May Day. Namun, panggilan untuk mengusut tuntas jaringan intelektual yang berada di balik aksi tersebut menjadi agenda utama aparat keamanan. Upaya kolaboratif antara kepolisian, lembaga akademik, dan pemerintah daerah diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
