PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 19 Juni 2026 | Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Juni 2026. Kenaikan ini memunculkan pertanyaan tentang dampaknya pada perekonomian Indonesia.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai bahwa ruang bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga masih terbuka meskipun sejumlah risiko global mulai mereda. Menurut David, kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran memang memberikan sinyal positif karena mengurangi kemungkinan terjadinya lonjakan inflasi global yang ekstrem.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kebutuhan BI untuk menjaga stabilitas makroekonomi domestik. "Kesepakatan AS-Iran memberikan sinyal positif tidak terjadinya skenario ekstrem kenaikan inflasi. Namun, BI sebenarnya masih ada ruang untuk menaikkan suku bunga dalam rangka menjamin stabilitas dan daya tarik aset rupiah sekaligus menjangkar ekspektasi inflasi ke depan," ujar David.
Pandangan lain disampaikan Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman. Menurutnya, arah kebijakan BI selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan risiko global maupun domestik dalam beberapa bulan ke depan.
Faisal menilai kenaikan suku bunga pada Juni mencerminkan langkah antisipatif BI untuk meredam kenaikan premi risiko aset keuangan Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, terutama setelah sikap Federal Reserve yang lebih hawkish dari perkiraan pasar.
Meski demikian, Permata Bank memperkirakan BI-Rate akan bertahan di level 5,75% hingga akhir tahun dalam skenario dasar mereka. "Kami mempertahankan proyeksi bahwa BI-Rate akan tetap berada di level 5,75% hingga akhir 2026. Namun jika tekanan eksternal maupun domestik bertahan atau bahkan meningkat, terdapat kemungkinan BI kembali menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan," kata Faisal.
Sementara itu, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait memastikan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tidak mengalami kenaikan meskipun BI telah menaikkan suku bunga acuannya.
Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, menilai kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran bakal berdampak positif bagi stabilitas fiskal serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Nilai tukar rupiah juga diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah meningkatnya prospek kenaikan suku bunga The Fed pasca-FOMC. Namun, suku bunga flat menawarkan kestabilan karena nilai persentase bunga dikunci sejak awal perjanjian, membantu perencanaan keuangan lebih stabil tanpa risiko tagihan membengkak di tengah masa kredit.
Kesimpulan, kenaikan suku bunga oleh BI dapat berdampak pada perekonomian Indonesia, namun dampaknya masih belum sepenuhnya dapat diprediksi. Oleh karena itu, penting untuk terus memantau perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter untuk memahami dampaknya pada perekonomian.
