PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 08 Agustus 2026 | Belakangan ini, kasus penipuan marak terjadi di Indonesia. Mulai dari rekrutmen palsu karyawan pabrik penyedap di Mojokerto, penipuan via WhatsApp dengan mengatasnamakan juru pungut retribusi sampah di Tanjungpinang, hingga penipuan berkedok travel umrah di Kendari.
Di Mojokerto, komplotan penipu meraup Rp 630,5 juta dari 7 korban dengan modus menggelar rekrutmen palsu karyawan PT Ajinomoto Indonesia dan PT Motasa Indonesia. Pasangan suami istri direkrut untuk mencari mangsa dengan imbalan 10 persen.
Sementara itu, di Tanjungpinang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengimbau warga waspada modus penipuan yang mencatut nama juru pungut retribusi persampahan. Modus ini sedang terjadi di Tanjungpinang, di mana pelaku menghubungi target melalui WhatsApp dan menawarkan pembayaran retribusi persampahan dengan pilihan 6 bulan hingga 1 tahun.
Di Kendari, Unit II Tindak Pidana Tertentu Kepolisian Resort Kota (Tipidter Satreskrim Polresta) menangkap Direktur PT Travelina Indonesia, WI (47), atas dugaan keterlibatan dalam tindak pidana penyelenggaraan ibadah umrah, penipuan, dan penggelapan yang merugikan puluhan jemaah asal Kota Kendari.
Penipuan juga dapat dilakukan melalui panggilan telepon yang terindikasi sebagai penipuan. Sharp, produsen perangkat elektronik asal Jepang, mengumumkan smartphone entry-level terbaru mereka yang bernama Aquos Wish6, yang dilengkapi dengan fitur keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi panggilan telepon yang terindikasi sebagai penipuan.
Cara cek nomor WA penipu juga dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi pengecek atau situs pelacak. Beberapa aplikasi yang dapat digunakan adalah Getcontact, Truecaller, dan Whoscall. Dengan menggunakan aplikasi ini, kita dapat mengetahui apakah nomor yang menghubungi kita adalah nomor penipu atau tidak.
Kesimpulan, penipuan dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan cara. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada dan berhati-hati dalam melakukan transaksi atau berinteraksi dengan orang lain, baik secara online maupun offline. Dengan menggunakan teknologi yang tepat dan meningkatkan kesadaran akan penipuan, kita dapat mengurangi risiko menjadi korban penipuan.
