PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 14 April 2026 | Di Jalan Indraloka II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, berdiri sebuah gedung putih tiga lantai yang menjadi sorotan publik setelah terungkap sebagai kantor PT Yasa Artha Trimanunggal, perusahaan yang dinyatakan sebagai pemenang tender motor listrik Badan Gizi Nasional (BGN). Meskipun bangunan tampak modern dan dilengkapi pagar tinggi berwarna cokelat, tampak jelas tidak ada papan identitas atau signage yang menginformasikan fungsi gedung tersebut. Hanya nomor bangunan 1850 yang terlihat, membuat warga sekitar kebingungan tentang apa sebenarnya yang beroperasi di dalamnya.
Pengamatan pada Senin, 13 April 2026, memperlihatkan suasana yang relatif sepi di depan kantor. Tiga jendela kaca berbingkai hitam pada lantai dua menghadap jalan, namun tidak ada logo perusahaan atau tanda lain yang dapat dikenali. Beberapa kali kendaraan ojek online berhenti, menurunkan penumpang yang kemudian melangkah masuk ke dalam gedung. Di seberang, sebuah bangunan tiga lantai lain menampakkan dua unit motor listrik yang diparkir dekat pintu masuk, menambah kesan bahwa area tersebut memang terkait dengan proyek motor listrik BGN.
Warga setempat, yang sebagian besar tidak mengetahui keberadaan kantor ini, memberikan komentar yang menyoroti kebingungan mereka. Salah seorang saksi, yang menyebut dirinya sebagai Mawar, mengonfirmasi bahwa pada Jumat, 10 April 2026, area kantor memang dikelilingi oleh aparat kepolisian. Polisi menempatkan pos pengamanan setelah menerima informasi tentang rencana aksi unjuk rasa yang diprediksi akan menargetkan kantor tersebut. Kapolsek Grogol Petamburan, AKP Reza Aditya, menjelaskan bahwa petugas hanya melakukan penjagaan, tanpa membawa senjata, dan aksi tersebut pada akhirnya tidak muncul sehingga polisi membubarkan diri sekitar pukul 17.30 WIB.
Penjagaan polisi menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai transparansi proyek. BGN sendiri sempat menjadi fokus sorotan publik terkait anggaran pengadaan motor listrik, laptop, bahkan perlengkapan seperti kaus kaki. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa tidak ada pemborosan dalam penggunaan anggaran. Ia menjelaskan bahwa motor listrik yang dibeli diproduksi dalam negeri di Citeureup, Bogor, dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) 48,5 persen, dan harga per unit Rp 42 juta—lebih murah dibandingkan harga pasar Rp 52 juta. Pengadaan motor listrik direncanakan selesai pada tahun 2026, dengan 85,01 persen unit (21.801 unit) sudah diproduksi, sementara sisa dana dikembalikan ke kas negara.
Namun, meskipun proyek motor listrik tampak berjalan, penampakan kantor yang megah namun tanpa identitas publik menimbulkan persepsi negatif. Warga mengeluhkan bahwa mereka tidak mendapat informasi resmi mengenai keberadaan perusahaan yang mengelola proyek penting bagi BGN. Selain itu, keberadaan pagar tinggi dan minimnya petunjuk visual menimbulkan spekulasi tentang tujuan sebenarnya dari gedung tersebut.
Berikut rangkuman fakta utama yang terungkap:
- Gedung PT Yasa Artha Trimanunggal terletak di Jalan Indraloka II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
- Bangunan berwarna putih dengan pagar tinggi cokelat, tidak memiliki papan nama atau signage identitas.
- Polisi melakukan penjagaan pada 10 April 2026 karena dugaan aksi unjuk rasa, namun tidak ada massa aksi yang muncul.
- BGN menegaskan tidak ada pemborosan anggaran pada pengadaan motor listrik, laptop, dan perlengkapan lainnya.
- Motor listrik diproduksi di Citeureup, Bogor, dengan TKDN 48,5% dan harga Rp 42 juta per unit.
Keadaan ini mempertegas pentingnya keterbukaan informasi publik, terutama pada proyek yang melibatkan dana negara dan dampak sosial yang signifikan. Jika masyarakat tidak mengetahui siapa yang mengelola fasilitas publik, kepercayaan dapat menurun, dan potensi tuduhan penyalahgunaan dana akan semakin mudah muncul. Transparansi tidak hanya mencakup laporan keuangan, tetapi juga kejelasan visual dan aksesibilitas informasi bagi warga sekitar.
Kesimpulannya, meskipun kantor pemenang tender motor listrik BGN menunjukkan standar arsitektur yang modern, kurangnya identitas visual dan komunikasi terbuka menimbulkan kebingungan di antara warga Jakarta Barat. Penjagaan polisi yang tidak diikuti aksi massa menambah misteri seputar proyek ini. Untuk memperbaiki persepsi publik, pihak terkait diharapkan meningkatkan keterbukaan, menambahkan signage yang jelas, serta melibatkan warga dalam sosialisasi proyek guna memastikan bahwa investasi negara dapat dipahami dan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat.
