PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 25 April 2026 | SDN Tlogo 2 di Blitar mengalami perubahan drastis setelah area perpustakaan, ruang kepala sekolah, dan ruang ekstrakurikuler dibangun tembok seng sebagai bagian dari proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Keputusan ini diambil meski mendapat tentangan keras dari guru, wali murid, dan sejumlah anggota legislatif setempat.
Penghentian fungsi perpustakaan terjadi pada Jumat, 24 April 2026, saat tim pekerja mulai mengerjakan fondasi bangunan koperasi. Siswa yang biasanya menghabiskan waktu belajar dan membaca kini hanya dapat menatap dinding logam yang menutup akses ke koleksi buku yang selama ini menjadi sumber ilmu utama mereka.
Seorang guru yang meminta agar namanya tidak disebutkan mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka. “Kami menolak, tapi setelah kepala daerah memberi lampu hijau, tidak ada ruang bagi kami untuk berbuat apa‑apa,” ujarnya. Guru tersebut menambahkan bahwa hingga kini belum ada rencana konkret mengenai penempatan buku-buku perpustakaan atau alternatif ruang belajar.
Berbagai pihak menilai janji pemerintah daerah untuk menyediakan ruang pengganti belum terealisasi. Awalnya terdengar bahwa sekolah akan menerima bangunan baru sebagai kompensasi, namun setelah proses pengerjaan KDMP dimulai, kabar tentang ruang pengganti menghilang. “Beberapa waktu lalu sempat ada wacana pembangunan ruang pengganti, tetapi sampai kini tidak ada bukti nyata,” kata guru tersebut dengan nada pasrah.
Orang tua siswa juga mengungkapkan keprihatinannya. Mereka khawatir proses belajar mengajar akan terganggu, terutama bagi anak‑anak yang mengandalkan perpustakaan untuk tugas dan kegiatan ekstrakurikuler. “Kami tidak mengerti politik pembangunan, tetapi prioritas utama kami tetap hak anak untuk belajar,” ujar salah satu orang tua yang juga menolak penyebutan namanya.
Berikut beberapa dampak yang dirasakan secara langsung:
- Gangguan proses belajar: Siswa harus mencari alternatif tempat membaca di luar sekolah, meningkatkan beban transportasi dan biaya.
- Kehilangan fasilitas penting: Ruang kepala sekolah yang berfungsi sebagai pusat koordinasi administrasi kini dialihkan menjadi area konstruksi.
- Ketidakpastian tenaga pendidik: Guru kebingungan menata kembali materi ajar tanpa ruang kelas dan perpustakaan yang memadai.
- Penurunan moral siswa: Keberadaan tembok seng di lingkungan belajar menimbulkan rasa tidak aman dan kurangnya motivasi.
Pihak kepolisian setempat belum memberikan komentar resmi, namun ada indikasi bahwa izin pembangunan sudah disetujui melalui peraturan daerah. Sementara itu, Komisi Pendidikan Kabupaten Blitar berjanji akan mengadakan dialog intensif dengan pihak sekolah, orang tua, dan pengelola KDMP untuk mencari solusi jangka pendek.
Para aktivis lokal juga mulai menggalang petisi daring yang menuntut penghentian proyek sampai ada kepastian ruang pengganti. Hingga saat ini, petisi tersebut telah memperoleh lebih dari 2.500 tanda tangan, mencerminkan besarnya kepedulian masyarakat terhadap pendidikan anak‑anak di wilayah tersebut.
Dalam situasi yang masih belum pasti, sekolah berupaya memanfaatkan ruang kosong yang tersisa untuk kegiatan belajar mengajar. Beberapa kelas dipindahkan ke aula serbaguna, sementara guru menggantikan sesi perpustakaan dengan pembelajaran daring menggunakan materi digital.
Ke depan, keputusan akhir mengenai keberlanjutan KDMP dan pemulihan fasilitas pendidikan akan sangat bergantung pada dialog antara pemerintah daerah, pihak koperasi, serta komunitas sekolah. Jika tidak ada penyelesaian yang memadai, risiko penurunan kualitas pendidikan di SDN Tlogo 2 dapat berlanjut, menambah beban bagi generasi muda yang tengah meniti pendidikan dasar.
